Pulang kampung kali ini betul-betul berbeda bagiku, begitu banyak hikmah dari kejadian dan peristiwa yang terjadi pada orang-orang dekatku. Aku jadi tak sabar untuk segera bercerita dengan sahabat semua. Karena jujur saja, reaksi pertamaku saat mengetahui ini adalah kengerian, dan aku jadi tak henti-henti beristigfar…
Asep. Aku kenal baik dengannya. Sangat baik malah, karena ia adalah teman sepermainanku semasa aku masih TK, hingga kelas 5 SD. Aku selalu bersaing dengannya. Bertiga dengan Tuti, sahabat masa kecilku yang satu lagi, kami berlomba-lomba untuk meraih juara kelas. Peringkat juara 1, 2 dan 3 pastilah hanya berkutat dikalangan kami bertiga saja. Dan ia termasuk salah satu saingan terberatku. Bahkan pada saat akhirnya aku yang terpilih menjadi pratami pramuka, dan ketua kelompok perlombaan dokter kecil tingkat SD se kecamatan Tanjung Raya kala itu, ia tetap adalah saingan yang patut kuperhitungkan. Ia termasuk sosok yang pantang menyerah. Amat gigih dalam mencapai keinginannya. Aku salut.
Ketika masih kelas lima SD, kami ditugaskan untuk membuat karangan mengenai laut. Tentu saja kami sekelas menulis dengan sangat semangat dan antusias. Gurupun meyuruh kami untuk membacakan hasil karangan masing-masing di depan kelas. Ya..dengan gaya yang berbeda-beda akhirnya kami satu persatu tampil ke depan kelas untuk membacakan hasil karangannya. Begitu banyak yang bercerita mengenai kedahsyatan dan keindahan laut. Kekuatan yang tersimpan di dalamnya, juga kengerian yang tercipta kala cuaca sedang tidak bersahabat. Begitu juga dengan hasil karanganku. Tak jauh beda.
Namun ketika giliran Asep untuk membacakan hasil karangannya, apa yang ia bacakan membuat kami semua khususnya aku terpana. Aku tak ingat persis redaksi kata-katanya, tapi aku ingat inti dari karangannya
“ aku tidak percaya pada kekuatan laut, banyak yang mengatakan bahwa laut itu begitu dahsyat. Namun bagiku laut itu bukan apa-apa. Kalau memang laut sehebat itu, maka ku tantang, nanti aku akan mati di laut”
Waktu itu aku cukup tercengang dengan hasil karangannya. Tidak menyangka dia yang masih sekecil itu bisa membuat kalimat yang demikian berani. Seusai pelajaran Bahasa Indonesia kudekati dan kutanya.” Kenapa seberani itu membuat tulisan tersebut? Bukankah itu menantang ketetapan Allah?”. Dengan yakin dan lantang ia menjawab “ Ya! Ku tantang. Lihat saja nanti!” lalu iapun berlalu. Waktu itu, aku tak terlalu ambil pusing sebenarnya, karena toh kami masih anak-anak. Dan aku segera lupa dengan kejadian tersebut. Namun ketika aku mendengar kabar tentang ia baru-baru ini, spontan memori di otakku kembali me-rewind kejadian itu.
Waktu terus berlalu. Karena aku harus segera pindah ke Padang untuk melanjutkan sekolahku. Aku tak lagi mendengar kabarnya sampai suatu hari. Ia bekerja sebagai awak sebuah kapal . dengan gaji yang sangat tinggi. Bahkan mampu menghidupi keluarga besarnya di kampung. Makmur menurutku.
Suatu kejadian yang naas menimpanya. Kapal yang dinakhodainya bersama dengan rekan-rekannya yang lain ditemukan terbelah dua, dengan salah satu sisi yang hancur berkeping. Dari tujuh orang yang dinyatakan hilang pada awalnya, Cuma ditemukan empat mayat. Sedangkan tiga lainnya tidak ditemukan dan dinyatakan hilang. Asep salah satu diantara yang dinyatakan hilang. Kejadian itu sudah terjadi setahun yang lalu, dan sampai sekarang Asep tidak diketahui rimbanya. Pihak keluargapun sudah berusaha untuk mengikhlaskan kepergiannya.
Bagiku kejadian ini tidak akan sangat berkesan sekali kalau aku tidak teringat akan kisah masa kecil kami. Saat ia membuat karangan itu. Entahlah, aku tidak tahu pasti, apakah ini sebuah kebetulan. Ataukah mungkin ini cara Allah untuk menunjukkan kekuasaannya. Bahwa tidak ada yang luput dari perhatianNya. Bahkan untuk sebuah perkataan dan pernyataan yang telah terjadi bertahun-tahun lalu sekalipun. Itu rahasia Allah. Tapi kuambil pelajaran dari kisah ini. Banyak. Sehingga, lagi..aku dibuat bertafakur cukup dalam.
Semoga kisah ini bisa bermanfaat juga untuk sahabat yang secara tidak sengaja membaca tulisan ini. Agar kita lebih berhati-hati dalam berkata dan berucap. Karena barangkali benarlah kiranya, kata-kata adalah doa. Wallahualam bisshawab.