SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “STRATEGI BELAJAR CERDAS”

BEM ETOS PADANG DOMPET DHUAFA REPUBLIKA  BEKERJASAMA DENGAN LEMBAGA TRAINING QUALITAN DENGAN BANGGA MEMPERSEMBAHKAN:

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ” STRATEGI BELAJAR CERDAS”

UNTUK ANDA YANG INGIN

  • MEMILIKI DAYA INGAT YANG LAMA,
  • MENGINGAT, BAIK ITU ANGKA ATAUPUN URUTAN NAMA BENDA DENGAN CEPAT
  • MENINGKATKAN DAYA INGAT DALAM MENCATAT
  • MAMPU MEMBACA CEPAT DAN MEMAHAMI APA YANG ANDA BACA DALAM WAKTU SINGKAT
  • MENUMBUHKAN KEYAKINAN DAN KETERTARIKAN DALAM MEMBACA
  • MEMAKSIMALKAN KEMAMPUAN MATA DALAM MEMBACA.
  • MENUMBUHKAN KEMAMPUAN UNTUK KONSENTRASI, MENANGKAP KUMPULAN KATA DAN MEMBEDAKANNYA
  • MENGHILANGKAN HAL-HAL YANG MENGHAMBAT DALAM MEMBACA

MAKA MENGIKUTI  ACARA INI ADALAH SOLUSI YANG CERDAS, DISINI ANDA AKAN DIBERIKAN TRIK2 JITU UNTUK MENDAPATKAN SEMUA ITU, OLEH PEMATERI YANG SUDAH AHLI DIBIDANGNYA. KESEMPATAN INI TERBUKA UNTUK SEMUA TANPA KECUALI. GURU (SD, SMP, SMA, GURU BIMBEL) MAHASISWA, SISWA YANG AKAN MENGIKUTI UJIAN NASIONAL (UN) DAN KALANGAN PROFESIONAL LAINNYA

BUAT KAMU YANG BERMINAT UNTUK MENGIKUTI SELEKSI PENERIMA BEASTUDI ETOS TAHUN 2010, INFORMASI LENGKAP DAN FORMULIR YANG DIBUTUHKAN UNTUK PENDAFTARAN SELEKSI BEASTUDI ETOS  DOMPET DHUAFA REPUBLIKA JUGA BISA DIDAPATKAN PADA ACARA TERSEBUT. SO…DON’T MISS IT!!

SALAM SUKSES

PANITIA ORANG SUKSES INDONESIA

Di pelabuhan

Aku tahu..tak lama lagi, masa itu akan datang. Perpisahan..tak terelakkan

Angin yang berhembus kencang menjelang berlayarnya kapal, menambah gundah dan duka hati ini

Tahukah engkau? Hatiku amat pilu saat itu.. serasa separuh napas melayang terbang, tercampak jauh.

Di pelabuhan..kutatap diam-diam wajahmu yang selalu menghiasi hari-hariku selama ini

Wajah kuat yang sering jadi inspirasi bagiku.

Dirimu bagai benteng kokoh yang selalu mengayomi saat masa lemahku. Tempatku bersandar..

Banyak kenangan tak terlupakan saat bersama denganmu..bagiku, entahlah bagimu.aku tak tahu.

Di pelabuhan, kuhitung detik demi detik menjelang perpisahan kita. Rasanya waktu amat cepat berlalu, sangat tak bersahabat..tapi aku tahu, masa ini pasti akan datang juga.

“mengenalmu menyenangkan, bisa bersamamu menyejukkan. Menghabiskan hari-hari denganmu adalah anugerah yang teramat kusyukuri…dirimu ibarat lembar demi lembar buku yang sarat ilmu dan pelajaran. Denganmu aku mampu menikmati hidup ini. Menemukan arti kehidupan dan perjuangan yang sebenarnya. Aku banyak belajar..andai kebersamaan ini bisa lebih lama. Banyak salahku, juga khilafku. Kumohon maafkanlah. Semoga engkau ridha. Mohon maaf lahir batin, engkau adalah sosok yang amat berharga bagiku. Terimakasih untuk semuanya. Aku menyayangimu karena Allah……sahabat”

Bakauheni-Merak,pertengahan desember..kala dini hari , dan dingin menusuk tulang



Indah

Matanya bulat hitam. Bercahaya dan berbinar setiap kali kuelus rambutnya yang panjang sebahu.  Ia tak pernah mau beranjak dari sampingku sedetikpun. Tangannya bergelayut di lenganku dengan kuat. Seakan tak mau lepas. Sesekali tanpa dia ketahui aku mencuri pandang padanya. Dapat kutangkap mata itu seringkali berkabut dan berkaca-kaca.

Indah..demikian kupanggil ia. Salah seorang siswa SDN 07 nan sabaris, yang bangunannya hancur akibat gempa.  Adik dampinganku di Sekolah ceria pasca gempa 30 September lalu. Tapatnya di Korong kampung tangah, nagari nan sabaris, kec. Padang bintungan, padang pariaman. Ia termasuk salah satu siswa sekolah tersebut. Indah adalah salah seorang dari 3 anak di kampung ini yang mengalami trauma agak lama. Trauma yang menurutku terlalu berlebihan. Pada awalnya aku beranggapan demikian. Setiap kali mendengar orang-orang berteriak gempa, refleks ia akan meloncat dan berlari tak tentu arah. Ahh..aku ingat persis kala itu, kamis 8 oktober 2009. Kami sedang bermain ular naga. Entah darimana seseorang meneriakkan gempa keras-leras, padahal tidak terjadi gempa saat itu. Indah dengan kecepatan yang tak kubayangkan berlari tak tentu arah dan tersandung sehingga kepalanya membentur tembok surau yang kami gunakan untuk sekolah ceria. Iapun menangis tersedu-sedu. Aku sungguh kasihan melihatnya. Matanya..mata itu alangkah lemahnya. Kupeluk ia dan kutenangkan, “gak papa indah..ga ada gempa sayang”. Ia masih tergugu dipelukanku. Erat dan makin erat. Aku bisa merasakan ia tak mau lepas dariku, ia tak mau merenggangkan pelukannya. Lama ia tersedu. Ku ajak ia ke tempat yang teduh dan kutenangkan ia.

Saat itulah ia bercerita lepas padaku.Ia berasal dari keluarga yang penuh dengan hardikan dan makian. Tidak ada hari tanpa teriakan dan kata-kata kasar yang meluncur dari mulut ibu ataupun ayahnya, aku sebenarnya tidak enak mendengarkan rahasia keluarganya yang kurasa tak pantas untukku dengar, tapi ceritanya meluncur demikian deras, tak terbendung bagai air bah. Diselingi dengan tetesan air matanya yang tak juga berhenti. Sungguh, hatiku ikut trenyuh mendengar ceritanya.

Dia sering dikurung di kandang ayam di rumahnya yang sebelum gempa telah beralih fungsi sebagai gudang, hanya karena salah meletakkan gelas. Ia juga sering tidak diizinkan masuk rumah dan dibiarkan menggigil kehujanan sampai waktu isya karena lupa menutup pintu ketika akan pergi sekolah. Tidak sekali dua dia tidak dibolehkan makan siang karena telat beberapa menit pulang dari sekolah karena ada tugas kelompok yang harus dikerjakan. Ahh.. aku tak mampu menahan airmataku yang semakin mengucur deras mendengar ceritanya yang juga sambil bercucuran airmata. Akupun jadi teringat masa kecilku yang kelabu..masa yang ingin kulupakan dan tak ingin kuungkit lagi karena kepedihan yang masih sering menyayat hati setiap kali aku mengingatnya. Ahh…indah..nasib kita serupa tapi tak sama.

Aku semakin menyayangi dia. Gadis cerdas dengan kehidupan masa kecil yang ternyata tidak seindah namanya. Aku butuh waktu berhari-hari untuk menenangkannya. Memberikannya kekuatan. Aku bukan psikolog atau psikiater yang mempunyai ilmu cukup untuk mengatasi permasalahan-permasalahan seperti ini. Ku lakukan semampuku. Kudampingi ia sesanggup yang aku bisa. Dengan tak lupa aku berdoa pada Allah demi kebaikannya. Ku sediakan setiap hari sedkit waktu untuknya, untuk mendengar ceritanya. Juga untuk memberikannya kekuatan yang kualirkan lewat kata-kataku yang amat sederhana. Dua minggu, kami telah jadi sahabat yang akrab. Dan kulihat matanya makin berbinar dari hari kehari. Mungkin ia telah menemukan caranya untuk menikmati hidupnya yang tak selalu pelangi.

Saat perpisahan kami, dua minggu setelah aku ditempatkan disana, saat aku ditarik kembali dari lokasi bencana, aku dapat melihat ketenangan dari sosok nya. Ia tak menunjukkan wajah kesedihan, tapi dapat kulihat, butiran bening perlahan-lahan mengalir dari sudut matanya yang bulat hitam. Menjelang aku berangkat. Ia berlari memelukku dengan erat dan menyerahkan sesuatu tanpa kata. Selembar surat yang ditulis di atas sehelai kertas putih yang sudah mulai suram. Namun dapat kurasakan bahwa surat ini ditulis dengan perasaan yang amat dalam. Puisi indah. Ahh…hatiku mengharu biru. Satu penggalan kalimatnya yang menyentuh relung hatiku

“kak ilen,..indah sudah punya ibu, tapi indah ingin kak ilen jadi bunda dan sahabat bagi indah..

Jangan lupakan indah ya bunda…”.

Ahh.. Allah…haru ini makin membuncah. Doaku untuknya, untuk kebaikannya, untuk masa depannya. Ya Rabb.. makasih ya..Engkau telah pertemukan hamba dengannya, sosok yang amat menginspirasi, juga beri  hamba kekuatan untuk semakin mencintaiMu..

Kejarlah hidayah itu,sobat

Dirimu adalah sisa-sisa masa laluku yang kelabu, sekarang…dirimu tiada arti lagi, karena cahaya Allah telah menerangiku. Aku takkan berpaling dari jalan ini. Ia telah memperdayaku, membuat ku jatuh cinta dengan penuh. Pergilah…dengan harapan-harapan dan mimpi semu mu. Ku doakan dirimu, sungguh! Aku tak dendam denganmu, karena aku telah diajarkan oleh Rabbku tentang bagaimana mulianya maaf, dan aku telah terlanjur jatuh cinta…maaf, aku tak ingin berpaling lagi, karena sekarang aku sudah berada dalam kenikmatan yang sangat.
Biarlah kupilih Allah, Rasulullah dan hari akhir, karena itu lebih menjanjikan bagiku, untuk kehidupan akhiratku, untuk kehidupan abadiku. Aku tak ingin mendua, karena berangsur-angsur aku semakin belajar mencintai Allah, meski ku tahu belumlah sempurna, jauh dari sempurna. Tapi biarlah ku kan terus mencoba, meski aku harus merangkak, meski aku harus bersimbah peluh darah. Aku tak mau kehilangan cinta Allah… Aku takut, sangat. Jika IA berpaling dariku, jika IA tak mau menengok aku lagi, jika IA tak mau tegur aku lagi, aku benar-benar takut. Dan engkau…dulu sering membuatku berpaling dariNya. Aku Cuma mau IA saja. Biarlah…
Doaku untukmu selalu dalam tiap sujud panjangku, semoga hidayah ini juga menyentuhmu, seperti diriku yang telah terjamah olehnya.

Sahabat, kejarlah hidayah itu..ia tak kan datang hanya dengan doa saja

Rindu…

“Ya Allah…cepatkanlah selesaikan pekerjaan kakakku ini, biar kami dapat berkumpul seperti dulu lagi ya Allah…amiiiinn…”
Sender :E9 Dona

+62813745284xx
Dikirim : 1 des 2009
18:25:04

Sore itu, dalam keheningan dan kesyahduan menunggu adzan magrib berkumandang, di posko Disaster Management Unit Dompet Dhuafa Lubuk alung, Pariaman…spontan aku tertegun,..perlahan rasa haru menyelusup di ruang kalbu.

Sms singkat, dari adikku di asrama Etos. Ini bukan sms yang pertama, sudah sering sangat. Kusimpan dengan rapi dalam memori HP dan hatiku. Lama sudah kutinggalkan mereka. Dua bulan. Aku rindu, benar-benar. Rindu keluarga kecilku yang unik, adik-adik dengan kepolosan mereka, dengan kebaikan, perhatian dan kasih sayang yang selalu mengisi hidupku sehari-hari. Dulu..sebelum gempa 30 September, aku ingat. ” kak pamit pergi sebentar ya… beberapa hari saja, menjadi relawan sekolah ceria di pariaman, kak usahakan cepat kembali..doakan ya..^_^ ” Aku bertekad hanya pergi sebentar saja. Tapi ahh..siapa yang tahu perjalanan hidup. Dua minggu pasca menjadi relawan sekolah ceria, aku tetap harus bergabung dengan tim penanganan bencana Dompet Dhuafa. Membantu beberapa pekerjaan di posko ini yang memang butuh tenaga.

Rindu..pada mereka, pada keusilan mereka, pada kemanjaannya, juga tingkah polah mereka yang kadang seperti bayi. Pun beragam karakter yang membuatku makin kaya dan dewasa. Entah bagaimana nasib mempermainkanku..60 hari sudah, kuhitung dengan cermat, aku meninggalkan mereka. ”Dik, kakak juga rindu, kalau Allah tak lagi pertemukan kita di dunia, semoga JannahNya adalah tempat pertemuan kita berikutnya..”

sejenak merenung

Sejenak merenung..mengingat semua yang lampau..dalam deburan ombak yang tak henti-henti menghempas,.
Duhai jiwa..disini dirimu kini..terdampar dalam pulau ketakjuban..
Banyak sudah yang engkau lalui, suka dan duka..namun ternyata benar kata orang bijak,,hidup itu bagai roda pedati..sesekali kita akan dibawah, sesekali diatas. Demokianlah selalu. Tiada henti..
..
hh..aku merenung lagi, mengingati masa yang lalu…tawa-tawa itu, canda ria..juga hari-hari berat yang penuh air mata. Menetes dalam kerapuhan hati yang makin renta..sayang ia tak berpenyangga..kadang tak cukup kuat menghadapi kegilaan dunia..
disini kini, hati ini masih mengingati masa lampau…
mengingati itu, sungguh..ada skenario Sang penguasa yang tak sanggup ku jangkau..diluar alam sadarku..
aku kadang terkapar, tercabik, terluka.. sampai ku kira ia takkan pulih lagi..
namun ada masanya ia melayang terbang, bersama wanginya bunga melati yang berseri….
tapi acapkali terlindas belati-belati tajam..
ia rapuh sudah.. tapi ia masih kuat.. aku salut sungguh
disini kini..aku merenung lagi..akan mimpiku yang tinggi
akan khayalku yang kadang muluk..
andai engkau tahu mimpiku teman, engkau pasti akan tertawa..entah geli entah kasihan..
tapi aku tak peduli..bukankah mimpi itu harus muluk? Aku tak peduli..karena ini mimmpiku, dan yang akan berjuang untuk ini adalah diriku..bukan engkau..
disini kini aku merenung lagi..
akan hamparan lautan yang makin luas,..dulu aku pikir, lautan hanya seluas tapak kaki..tapi kini aku sadar, luasnya dunia tak terperi…aku telah bertekad,,,ia akan kusebrangi..
disini kini..disela kenangan masa silam yang kadang merajuk hati..aku tak mau terjebak lagi
masa depanku ada didepan, bukan dibelakang dalam paruh usiaku yang telah berlalu pergi
Disini kini..untuk kesekian kali..aku merenung lagi

Lubuk alung..kala malam telah larut

Aku bertemu angin lagi

Aku bertemu angin lagi.
Tapi kali ini ia sedang tidak ramah.
Menderu…menghempas, meradang penuh nafsu, hingga darahkupun mengalir deras sampai ke ubun-ubun. Menggetarkan raga. Aku gemetar. Matanya merah menyala. Aneh. Sorot itu.Tak damai. Tak sejuk. Aku takut. Tapi aku tak mau ia pergi
Angin itu.. pergi tanpa kata, tapi sungguh aku rindu. Aku rindu sosoknya, angin itu..lagi

Apakah ini karena ia menantang Allah? (part 2)

Ini kisah adikku, yang kuceritakan ulang disini. Setiba aku dikampung menjelang lebaran lalu. Ceritanya menggebu tak henti-henti. Dan kelelahankupun hilang mendengar ceritanya.

“Niko, teman sekelas iim di madrasah meninggal kemaren, uni”. Ia memulai ceritanya.”Innalillahi wainna ilaihi rajiun” jawabku, aku kenal niko. Teman sekelas adikku di madrasah yang tinggal di jorong Panyinggahan, namun aku tak begitu tertarik. Karena menurutku walaupun ia masih 13 tahun, tapi toh ajal bisa direnggut Allah kapan saja, kan? Namun ternyata ceritanya tidak berhenti sampai disana. “uni tahu ndak, kenapa niko meninggal?” Adikku semakin gencar bercerita melihat kekurang antusianku “karena lah sampai ajalnya im” jawabku polos. “eee..uniko, dak itu maksud iim do..kalau itu iim lah tahu lo mah..”. ia mulai cemberut, kesal dengan sikapku. Kuperhatikan mimiknya yang comel.”iyo..iyo, uni dak tahu do, ceritalah dek..” jawabku sambil menahan geli. Seketika wajahnya cerah melihat aku mulai semangat menyimak kisahnya. begini uni…

Jumat kemaren,  tepat jam 12 niko disuruh ibunya untuk menyelam mencari pensi di danau. Para tetangga sudah mengingatkan untuk tidak turun ke danau saat itu. Karena sebentar lagi shalat jumat akan ditunaikan. Ditambah lagi pada saat jam 12 an matahari sedang berada di ubun-ubun. Menyengat sekali. “Nanti aja tek, setelah jumatan. Matahari sedang tinggi. Nanti niko sakit,  Lagipula kan niko harus shalat jumat” Demikian salah seorang tetangga mengingatkan. Ibu niko meradang “ dak usah diatur-atur pulo den..Niko tu anak den..”.” Iyo tek..ambo lai tahu, tapi rancaklah si niko shalat Jumat dulu, beko baa-baa pulo inyo di dalam danau, lagipulo niko lah gadang . lah kanai kewajiban shalat jumat.” Ia masih tak jemu memberi nasehat. “Dak usah ikut campur, den dak takuik do. Kok iyo batua kecek waang, caliaklah beko…kok mati anak den, baru den picayo..”

Adikku bercerita semakin tak terbendung. Aku sudah ternganga dari tadi. Beraninya ibu itu. “trus gimana dek..?” Aku makin penasaran. Demi melihat reaksiku, adikku langsung memasang aksi jual mahal.”ehm..ehm…tertarik juga ya…?” Katanya nyegir kuda. Gantian aku yang cemberut. “iimmm….” Aku mulai mencubiti pinggangnya.”iyo…iyo…iyo..uni”. Adikku kegelian. Kemudian ia kembali bercerita.

Setelah shalat jumat, kami bermain-main ke danau untuk berbiduk-biduk, saat itulah kami mendengar raungan histeris dari tepian mandi tek Joani…spontan kami berlari kesana, mengurungkan niat untuk menurunkan biduk ke tepian. Di sana kami melihat ibu niko meraung-raung tak henti-hentinya. Disampingnya tergolek kaku tubuh niko. Ia telah meninggal. Dari cerita tek piah, Niko tengah menyelam danau untuk mencari pensi saat itu. Tepat ketika khatib jumat di mesjid menyelesaikan khutbahnya. Setelah itu ia tak muncul-muncul lagi ke permukaan. Ternyata pada saat menyelam itu, kakinya terjepit di antara dua buah batu besar yang ada di dasar danau, dan tak bisa ditarik. Sampai niko tewas kehabisan napas di bawah sana.

Adikku menarik napas dalam-dalam. Mengakhiri ceritanya. Aku termangu. Berusaha mencerna cerita adikku barusan. Ngeri . Sungguh, kesudahan yang tidak baik.

“ Uni…”Adikku menyentuh tanganku lembut. “Bisakah itu disebabkan, karena ibu niko menantang Allah?”. “Menurut iim, Allah menunjukkan betul pada kita terutama ibu Niko, bahwa kita tidak boleh menantang Allah, dak boleh sombong sama Allah. Dak boleh tinggi hati, pada makhlukNya. Apalagi pada Allah” Adikku berbicara sambil matanya memandangi air danau Maninjau yang sedang riak-riak kecil. “ iya dek..betul. Kita tak punya hak untuk sombong. Cukuplah syetan saja yang telah diusir dari Syurga dan dijanjikan neraka oleh Allah karena sombongnya” Jangan sampai kita menjadi teman syaitan di neraka nanti, ya dek..Nauzubillah…”. Aku menambahkan. Adikku sudah semakin besar saja. Pola pikirnyapun sudah semakin terbentuk dan terarah. Agaknya jiwa kritisnya sudah mulai berkembang pesat. Ia manggut-manggut mendengar jawabanku. “iya uni, InsyaAllah…”.

Semoga ini menjadi pelajaran berharga baginya, bagiku, juga bagi kita semua. Wallahualam

Hari itu aku bertemu angin

Hari itu aku bertemu angin. Ia ingin pergi ke utara. Ia tersenyum lembut padaku. Menyegarkan. “Len, tunjukkan aku arah utara..”pintanya. kuputarkan telunjukku ke delapan penjuru mata angin. Ia tertawa geli.” Arah utara len, bukan semua mata angin”..hehe. ia kukerjai, tapi ia tak marah. Ahh..kasihan, sepertinya ia tersesat. Lalu kutunjukkan arah yang benar. “terimakasih ya…”ujarnya sambil berlalu. “hei..angin, tunggu. Apa pasal niat nak ke utara..?” Aku bertanya penasaran. “aku ingin membawa kabar untuk seorang di utara, ada pesan singkat dari sahabatnya di selatan”. Angin dengan senang hati menjawab. “boleh ku tahu apa pesannya?’ Aku bertanya lagi, sambil mengerjap-ngerjapkan mata menggodanya. “Boleh, tentu saja. Sahabatnya ingin mengatakan bahwa dia mencintai sahabatnya karena Allah, dan dia berharap pertemuan dengannya di syurga kelak”. Aku pergi dulu ya…, Assalamu’alaikum” dan anginpun berlalu.

Hari itu aku bertemu angin. Ia ingin pergi ke utara.

Apakah ini karena ia menantang Allah? (part 1)

Pulang kampung kali ini betul-betul berbeda bagiku, begitu banyak hikmah dari kejadian dan peristiwa yang terjadi pada orang-orang dekatku.  Aku jadi tak sabar untuk segera bercerita dengan sahabat semua. Karena jujur saja, reaksi pertamaku saat mengetahui ini adalah kengerian, dan aku jadi tak henti-henti beristigfar…

Asep. Aku kenal baik dengannya. Sangat baik malah, karena ia adalah teman sepermainanku semasa aku masih TK, hingga kelas 5 SD. Aku selalu bersaing dengannya. Bertiga dengan Tuti, sahabat masa kecilku yang satu lagi, kami berlomba-lomba untuk meraih juara kelas. Peringkat juara 1, 2 dan 3 pastilah hanya berkutat dikalangan kami bertiga saja. Dan ia termasuk salah satu saingan terberatku. Bahkan pada saat akhirnya aku yang terpilih menjadi pratami pramuka, dan ketua kelompok perlombaan dokter kecil tingkat SD se kecamatan Tanjung Raya kala itu, ia tetap adalah saingan yang patut kuperhitungkan. Ia termasuk sosok yang pantang menyerah. Amat gigih dalam mencapai keinginannya. Aku salut.

Ketika masih kelas lima SD, kami ditugaskan untuk membuat karangan mengenai laut. Tentu saja kami sekelas menulis dengan sangat semangat dan antusias. Gurupun meyuruh kami untuk membacakan hasil karangan masing-masing di depan kelas. Ya..dengan gaya yang berbeda-beda  akhirnya kami satu persatu tampil ke depan kelas untuk membacakan hasil karangannya. Begitu banyak yang bercerita mengenai kedahsyatan dan keindahan laut. Kekuatan yang tersimpan di dalamnya, juga kengerian yang tercipta kala cuaca sedang tidak bersahabat. Begitu juga dengan hasil karanganku. Tak jauh beda.

Namun ketika giliran Asep untuk membacakan hasil karangannya, apa yang ia bacakan membuat kami semua khususnya aku terpana. Aku tak ingat persis redaksi kata-katanya, tapi aku ingat inti dari karangannya

“ aku tidak percaya pada kekuatan laut, banyak yang mengatakan bahwa laut itu begitu dahsyat. Namun bagiku laut itu bukan apa-apa. Kalau memang laut sehebat itu, maka ku tantang, nanti aku akan mati di laut”

Waktu itu aku cukup tercengang dengan hasil karangannya. Tidak menyangka dia yang masih sekecil itu bisa membuat kalimat yang demikian berani. Seusai pelajaran Bahasa Indonesia kudekati dan kutanya.” Kenapa seberani itu membuat tulisan tersebut? Bukankah itu menantang ketetapan Allah?”. Dengan yakin dan lantang ia menjawab “ Ya! Ku tantang. Lihat saja nanti!” lalu iapun berlalu. Waktu itu, aku tak terlalu ambil pusing sebenarnya, karena toh kami masih anak-anak. Dan aku segera lupa dengan kejadian tersebut. Namun ketika aku mendengar kabar tentang ia baru-baru ini, spontan memori di otakku kembali me-rewind kejadian itu.

Waktu terus berlalu. Karena aku harus segera pindah ke Padang untuk melanjutkan sekolahku. Aku tak lagi mendengar kabarnya sampai suatu hari. Ia bekerja sebagai awak sebuah kapal . dengan gaji yang sangat tinggi. Bahkan mampu menghidupi keluarga besarnya di kampung. Makmur menurutku.

Suatu kejadian yang naas menimpanya. Kapal yang dinakhodainya bersama dengan rekan-rekannya yang lain ditemukan terbelah dua, dengan salah satu sisi yang hancur berkeping. Dari tujuh orang yang dinyatakan hilang pada awalnya, Cuma ditemukan empat mayat. Sedangkan tiga lainnya tidak ditemukan dan dinyatakan hilang. Asep salah satu diantara yang dinyatakan hilang. Kejadian itu sudah terjadi setahun yang lalu, dan sampai sekarang Asep tidak diketahui rimbanya. Pihak keluargapun sudah berusaha untuk mengikhlaskan kepergiannya.

Bagiku kejadian ini tidak akan sangat berkesan sekali kalau aku tidak teringat akan kisah masa kecil kami. Saat ia membuat karangan itu. Entahlah, aku tidak tahu pasti, apakah ini sebuah kebetulan. Ataukah mungkin ini cara Allah untuk menunjukkan kekuasaannya. Bahwa tidak ada yang luput dari perhatianNya. Bahkan untuk sebuah perkataan dan pernyataan yang telah terjadi bertahun-tahun lalu sekalipun. Itu rahasia Allah. Tapi kuambil pelajaran dari kisah ini. Banyak. Sehingga, lagi..aku dibuat bertafakur cukup dalam.

Semoga kisah ini bisa bermanfaat juga untuk sahabat yang secara tidak sengaja membaca tulisan ini. Agar kita lebih berhati-hati dalam berkata dan berucap. Karena barangkali benarlah kiranya, kata-kata adalah doa. Wallahualam bisshawab.