Jalan Ke Syurga

Semoga karena berkah, sehingga semuanya menjadi mudah,

Semoga karena ridha Allah semuanya terasa indah

Dalam susah yang kadang payah, selalu ada bianglala yang memanjakan mata, selalu ada embun yang menyegarkan jiwa..

 

Meski deru napas tak selamanya teratur,

Meski kadang pertahanan terasa lentur,

Acapkali susunan bata-bata hati hancur lebur..

Namun selalu ada Allah tempat aku bertutur

IAnya tempat terindah airmataku tercucur..

 

Aku ingin selalu mencintaiNya lebih dari segala sesuatu..melebihi rasa sayangku pada dunia fana ini,

Bahkan melampaui rasa sayangku pada nyawaku sendiri

Dan aku selalu berdoa, semoga dengan kehadiran pangeran dan dua bidadari dalam hidupku ini membuat upaya dan ikhtiyar panjangku menujuNya semakin lapang dan mudah..

Sehingga mimpi besarku untuk memiliki rumah di syurga tak hanya sekedar mimpi lagi..

Jikalah tiba saatnya aku menghadapNya di yaumil akhir nanti,

Aku berdoa agar Allah, RasulNya dan orang-orang beriman tersenyum penuh cinta menyambutku..

Aku dan keluargaku, orang-orang yang kucintai dan mencintaiku, dan mereka yang tiada pernah jemu memperjuangkan kalimatNya

 

Ya Allah..kubermohon dengan sungguh..

Jadikan hati-hati kami semakin padu mencintai dan mencari ridhoMu..

 

Ya Rahman..kuatkan azzam ini

Karena ku yakin inilah jalan menuju SyurgaMu..

260112

Sejenak teringat padamu

Di pagi yg cerah, sebelum memulai aktivitas yang padat

 

 

Disini aku temukan cinta

Disini aku temukan cinta

Di saat perjuangan panjangku mengumpulkan pasir-pasir mutiara, dan bata-bata lazuardi berselimutkan warna warni pelangi untuk membangun sebuah rumah di syurga

Rumah nyaman dengan jendela-jendela berbingkai emas, dan sudut-sudut penuh ukiran bergelombang..

Indah dan mempesona

Disini aku temukan cinta,

ketika kakiku mulai melepuh, di saat napasku mulai tersengal,,

Engkau tawarkan sebentuk cinta, dalam kesederhanaan nan bersahaja

Mungkin karena semua begitu sederhana, aku terjebak karenanya

 

Disini aku temukan cinta

Dari kini, hingga nanti..ku berazzam…hanya karena Allah, hanya untukNya

Dan biarlah malaikat tersenyum di sudut sana..turut berdoa penuh takzim

Semoga kita kan terus bersama hingga terpisah ruh dan jasad

Menuju rumah kita,

Di jannahNya….

 

120112

Sore yang sejuk dan damai,

ketika menunggumu..^_^

Markaz..

Harusnya aku rapat sore ini, untuk sebuah amanah yang cukup penting menurut hematku, tapi hanya ada dua orang yang datang. Tak mungkin rasanya melanjutkan rapat ini. Tidak kondusif.

Tak pelak, terpaksalah aku menghabiskan waktuku di ruang tamu markaz ini. Sambil menunggu seorang sahabat  yang juga sedang rapat lain sembari menanti jarum panjang jam di dinding itu beringsut ke angka 12 dan jarum pendeknya berdiri tegar di angka enam. Hehe..Hmm..tepatnya bukan menghabiskan waktu sih, tapi mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat. Salah satunya menulis ini.hehe

Ku tatap ruangan markaz dakwah ini. Yang perlahan tapi pasti beranjak megah dan kondusif. bangunannya kokoh, enak dipandang, sejuk dilihat, dan nyaman untuk beraktifitas. Markas yang akan senantiasa dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai ide-ide segar dan pemikiran-pemikiran kreatif para pejuang-pejuang kebaikan. insyaAllah..

Aku yakin, kekokohan bangunan ini juga akan menjadi pencetus semakin kokohnya bangunan kekuatan dan kesolidan jamaah ini. Subhanallah kembali aku memuji Allah.

Terngiang kembali cerita ustadzahku dalam pertemuan rutin kami tentang perjuangan para pendahulu dakwah ini akan susahnya mencari tempat yang kondusif untuk bisa berkumpul, berdiskusi dan bertukar pikiran demi memberikan kemaslahatan yang lebih banyak lagi bagi umat, bagi dakwah ini.

Dulu, tidak banyak tempat yang bisa digunakan untuk berbagi pikiran dan bermusyawarah. Tidak semudah sekarang. Perjuangannya jauh lebih berat. Amat sangat berat. Dari rumah ke rumah, dari masjid ke mesjid, dari warung ke warung. Itu tentang fasilitas, belum lagi tentang perjuangan dakwah yang mendapat kecaman dari  begitu banyak pihak. Ku rasa, salah satu faktor inilah yang mengakibatkan lahirnya para pendahulu yang kuat dan tegar. Para pemimpin yang mumpuni, merakyat dan zuhud. Contoh teladan dalam perlombahan merajut begitu banyak karya dalam kebaikan dan amal shaleh.

Kadang aku kembali berpikir, apakah memang kita harus selalu berada dalam kesulitan dan perjuangan yang payah baru kemudian kualitas kita akan meningkat? Karena seringkali segala kemudahan dan fasilitas-fasilitas duniawi justru mengakibatkan kita agak lalai dan kurang syukur.

Tapi ahh..setelah kurenungkan lagi, pemikiran itu picik sajalah adanya. Zaman telah berubah. Tuntutan zaman sudah semakin banyak dan berkembang. Kata ustadzahku, berdakwahlah sesuai dengan zamannya. Berdakwah hari ini tidak bisa mengandalkan fasilitas seadanya seperti dahulu lagi. Kita akan jauh tertinggal. Kita akan dipandang sebelah mata oleh objek dakwah, jika terus menerus berada dalam kondisi yang serba kekurangan. Kurasa memang benar adanya. Dakwah hari ini harus tampil berwibawa dan elegan, tanpa pernah meninggalkan unsur-unsur kesederhanaan, zuhud, tawadhu dan rendah hati. Sekali lagi ku garis bawahi tanpa pernah meninggalkan unsur-unsur kesederhanaan, zuhud, tawadhu dan rendah hati.

Karena bagaimanapun, dunia terus berkembang pesat, kemajuan teknologi semakin canggih, kita akan tertinggal jika tidak menyesuaikan dengan perubahan zaman itu. Kita akan tergilas.

Dan yang pastinya yang menjadi catatan adalah jangan sampai kita menjadi budak dari perkembangan zaman, tapi justru kitalah yang harus mengendalikannya. Jangan sampai karena begitu banyaknya kemudahan dan fasilitas untuk berdakwah saat ini justru membuat kita terlalai dan melupakan visi dan misi utama dakwah ini.

Ada orang bijak berkata

Jika engkau meletakkan dunia di tanganmu, maka ia akan menjadi budakmu, namun jika engkau letakkan dunia di hatimu, maka ia justru yang akan memperbudakmu.

 

Hmm..mungkin begitulah kira-kira maksudnya. Kalau tidak tepat-tepat betul redaksinya.

Oke, kukira demikian dulu. Sudah jam enam sore. Waktunya pulang. Beberapa mujahid/ah dakwah pun sudah mulai keluar dari ruangan-ruangan rapatnya masing-masing untuk bersegera pulang dan melaksanakan amal jihad yang baru.

Markaz, 291211

Sebuah tulisan ringan sembari menunggu Ve. 

Ibu, madrasah pertama pendidikan berkarakter

171211. Hari  yang menyengat. Membakar ubun-ubun. Siang itu matahari begitu teriknya. Aku yang sedang bepergian ke pasar raya Padang siang itu mengipas-ngipas tak henti-henti, begitupun penumpang angkot di sebelahku. Bernasib sama. Di tengah suasana gerah itu, tiba-tiba di balik kerumunan para penjual makanan yang ramai di depan mesjid Taqwa Muhammadiyah, berlarian ratusan siswa berpakaian SMP dan SMA. Sontak aku terkejut. Perasaanku mendadak tidak enak. Pikiran aneh mulai bermain-main di benakku.

 

“TAWURAN!!” sopir angkot yang kutumpangi berteriak histeris. Naudzubillah..serta merta bibirku bergumam. Begitupun dengan penumpang lainnya di atas angkot Siteba yang kutumpangi.

 

capek se lai pai da..kalau indak mati konyol wak disiko”. Seorang ibu yang membawa tiga orang anak berseru tak sabar kearah sopir. Demikian juga dengan beberapa penumpang lain. Berteriak-teriak agar sesegera mungkin meninggalkan lokasi itu. tapi sungguh malang, kemacetan kecil terjadi disana sehingga membuat angkot yang kami tumpangi tidak dapat melaju cepat. Harus terseok-seok dulu sebelum akhirnya bisa meninggalkan lokasi tawuran tersebut. Bagaimana tidak was-was, angkot yang kami tumpangi terjebak di antara kerumunan dua massa yang sedang bertikai.

 

Masih sempat kulihat remaja-remaja tanggung dengan sorot mata liar yang saling berkejaran dengan membawa pisau dan benda tajam di tangan. Mata yang haus pelampiasan kekerasan, tak kenal ampun. Jantungku berdetak tak karuan. Berdegub-degub makin tak berirama.

 

Sekilas sebelum angkot yang kutumpangi pada akhirnya berhasil lolos dari jebakan penuh resiko itu, tampak olehku salah seorang siswa dari pihak yang berseteru melemparkan kursi ke arah pihak lawannya, hanya butuh sepersekian detik saja, maka kursi itu akan mengenai angkot yang kami tumpangi, namun Alhamdulillah sopir yang mengendarai angkot kami cukup lihai menghindar dan segera melarikan angkotnya dari lokasi kejadian itu.

Dari kejauhan tampak olehku suasana yang makin panas disana, siswa-siswa berlarian saling mengejar dengan benda-benda tajam dan beberapa orang anak kecil yang menangis karena panik dengan kondisi itu. Aku ingin menolong, tapi sungguh aku tak berdaya..

Read more

It’s all about my BOZZ

Aku mau cerita tentang dua orang bosku di kantor, mereka sumber inspirasiku. Banget banget banget..^_^

Bos ku yang pertama yang mau kuceritakan padamu  ini bener-bener deh. Ga tahu siang, ga tahu malam sering menelpon diriku. Cintaaa banget kayaknya sama aku. Ingat, dulu pernah jam 12 malam nelpon cuma mau nanya kabar. Atau pernah juga nelpon jam 2 dini hari cuma pengen  bilang kalau di rumahnya lagi mati lampu. Dan ketakutan kalau ada maling yang masuk.haha…si bos penakut juga ternyata euy..(peace bosss…\(^_^)/..)

Tapi bosku yang satu ini hebat banget, sekarang lagi S2 di IAIN Imam Bonjol padang..gimana gimana pun beliau top abiz lah, di sela kesibukan kerja beliau masih sempat mikirin akademisnya. Calon rektor IAIN tahun 2200 (ups,, kelamaan ya boz ya…wkwkwk)

Gigiiih banget. Itu yang ku pelajari darinya. “kareh angok” kalau bahasa kampungku..hehe..begitulah beliau. Selalu menebarkan keceriaan di kantor kami. Apalagi kalau kami bertiga, tim Fundraising Dompet Dhuafa Singgalang  sudah pada ngumpul, pasti heboh banget deehh..beliau penuh dengan ide-ide segar.

Beliau cukup sering bikin kesal bosku yang satu lagi..(nanti kuceritakan tentang bosku yang ini ya)..

Back to topic,yuuuk…

Read more

Semua Karena Allah

Semuanya hanya untuk Allah, semua karena Allah..

Sujud ini, langkah ini, amanah ini, pilihan ini

Aku yakin, Allah tak pilih aku dengan sia-sia..

Yang kuyakini..Ini kesempatan bagiku untuk dapat berlari mengejarMu lebih dekat.

Sungguh ya Allah, yang kuyakini dalam hatiku..besarnya rasa cintaMu padaku..

Sehingganya Engkau pilihkan aku..

Maka ya Habib.., tuntun aku untuk terus berlari mengejar cintaMu..

Beri aku hati yang rendah di hadapanMu..sehingga dengannya aku mampu meraih redhoMu yang agung..

Allah..bantu aku semakin mencintaiMu dengan sungguh, di balik semua skenario indahMu…

Kuatkan aku ya Allah..

Hati Sebening Telaga

Kumisnya tebal. Badannya gemuk. Kulitnya agak sedikit legam. Ia masih mengenakan helmnya yang sedikit kumal saat ia mengetuk pintu Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang siang itu. menjelang berkumandangnya adzan jumatan,  2 Desember 2011. Ia adalah bapak yang biasanya mengantarkan Koran langganan kami ke kantor.

“Assalamu’alaikum wrwb, maaf dik, mau bertanya, apakah disini ada kehilangan dompet?. Istri ambo menemukan dompet tercecer beberapa hari yang lalu di depan kantor ini”. katanya

“Beliau itu tunarungu, sebenarnya ia ingin mengantarkan langsung ke sini, tapi ia takut tidak ada yang mengerti ucapannya karena tuna rungunya itu, makanya ia minta saya untuk kesini, menanyakan apakah ada karyawan sini yang kehilangan dompet.”

Kami semua bersorak. Subhanallah..iya, itu pasti dompet Adrius yang hilang beberapa hari lalu.

“ada dua buah sim di dalamnya dan beberapa kartu lainnya”. Ia terus menjelaskan.

Kami semua tersenyum. Saat itu hanya ada aku, Ria, Toni dan Akmal di lantai 1.

“istri saya bilang, pasti yang punya dompet ini akan sangat butuh sekali. Makanya ia suruh saya kesini, nanti saya ajak istri saya kesini ya, buat ngantarkan dompetnya.”  Si bapak masih melanjutkan dengan sumringahnya.

“iya bapak, terimakasih banyak”. Kami serempak menjawab sembari melepas si bapak yang pamitan untuk melanjutkan tugasnya mengantarkan Koran ke pelanggan yang lain.

Ya Rahman..Subhanallah..kami yang menyambut si Bapak di depan hanya bisa memuji Allah. Ternyata orang-orang baik itu banyak. Bertebaran di sekitar kita. Istri beliau yang tuna rungu yang berprofesi sebagai pemulung, ternyata memiliki hati sejernih telaga.

Ini memang hanyalah soalan sederhana. kehilangan dompet, dan yang menemukannya mengembalikannya kembali.

Tapi menjadi tidak lagi sederhana ketika ditilik lebih dalam akan ketulusan niat si ibu, yang cacat dan tunarungu namun memiliki empati yang begitu tinggi.

Teringat kembali kejadian beberapa hari lalu, ketika salah seorang anggota keluarga kecil Dompet Dhuafa Singgalang yang kehilangan dompetnya, adrius, mengalami kepanikan luar biasa. Semua tempat didatangi dan dibongkar, untuk menemukan dompet itu. Itu benar-benar hari yang tidak mengenakkan baginya. Aku yakin itu. kalau hanya kehilangan uang, pastilah tidak akan segalau itu. Namun yang menjadi masalahnya adalah dalam dompet itu terdapat kartu-kartu dan surat-surat berharga. Dapat kubayangkan betapa tidak nyamannya.

Tapi Allah Maha besar. Allah maha kuasa. Kalau ia menghendaki, pastilah tidak ada yang tidak mungkin.

Aku belajar satu hal, jangan menilai seseorang dari kulitnya. “don’t judge the book by its cover

Yup. Nanti siang bapak itu akan datang lagi ke kantor ini untuk mengantarkan dompet itu bersama istrinya. Sudah terbayang olehku ekspresi Adri ketika mengetahui dompetnya sudah kembali.

Dan yang pasti. Sepertinya siang ini keluarga besar Dompet Dhuafa Singgalang akan puas makan donat, karena aku ingat Adri pernah berjanji, jika dompetnya kembali, kami semua akan ditraktir makan donat olehnya. Cihuyyy. Bukankah demikian Adri…??  ^_^

Engkau tetap sahabatku..

Karena bagiku, engkau adalah masa lalu,

karena ku tahu, engkau juga adalah manusia yang tak luput dari lemah dan khilaf, selayaknya diriku ini..

Dan dirimu sebagaimana dirimu adanya,

Dengan segala keteduhan itu

Dengan segala sifat lembutmu

Kadang dengan segala kekesalan dan tanya-tanyaku yang tak pernah kau jawab,,

Meski ku desak dengan keras bagai ombak menghantam karang

Namun engkau tetap saja sama

Dari dulu hingga sekarang, kusampaikan pesan pada gerimis senja ini..

Engkau tetap sahabatku..

Meniti Hari-Hari Baru

1 Muharram 1433. Tahun baru dengan berjuta harapan. Apakabarmu kawan? Ternyata hari ini Allah masih pertemukan kita. Dengan semangat  yang lebih menggelora tentunya, walaupun dengan suasana yang masih saja sama. Ku doakan semoga engkau baik-baik saja, seperti diriku yang saat ini sedang meringkuk di sudut mesjid Jamiatul huda ini. bersama sahabat setiaku. Tempat meluapkan segala seliweran ide yang terus terusan bergelayut di kepala. Sembari membiarkan jari jemariku bermain lincah menuliskan tulisan-tulisan ringan ini. Menunggu dimulainya kajian dhuha. Walaupun ustadz yang akan berbagi ilmu sudah datang dari tadi, namun belum banyak yang datang. Ahh..biarlah, acara-acara seperti ini sepertinya memang selalu kekurangan peminat. Mungkin memang hanya orang-orang tertentu saja yang mencintai majelis ilmu..:)

Hanya ingin berbagi denganmu kawan, menyambut tahun baru ini. 1433 H. Bagiku khususnya, semua telah dipersiapkan..segala sesuatu  telah matang. Seperti tahun yang sudah-sudah. Mimpi-mimpi di tahun depan, telah usai dirangkai. Peta demi peta kehidupan telah selesai di rancang. Peta 5 tahunan telah berhasil dirunut dan dirinci lagi menjadi mimpi-mimpi dan target-target di tahun baru 1433 H ini.

Banyak hal yang berbeda di tahun ini. ada gebrakan-gebrakan baru yang menantang. Banyak target-target baru yang harus tercapai. Target yang jauh berbeda dari tahun-tahun hijriyah sebelumnya. Banyak berubah. Untuk dunia, juga akhiratku..

Ku tatap hamparan peta di depan mataku. Indah sekali, bahkan lebih elok daripada peta Indonesia yang menghampar dengan kepulauan dari barat ke timur sepanjang garis khatulistiwa. Bagiku tentu.

Semuanya telah sedemikian matang. Ini skenarioku. Mimpi dan rencanaku untuk hidupku ke depan. Namun aku tetap yakin..skenarioku ini adalah aturan ku sebagai manusia. Skenario Allah jualah yang akan berlaku nantinya.

Sekilas, menapaktilasi 3 tahun ke belakang. Ku tatap lagi peta-peta usang yang telah mengisi hidupku sejak tiga tahun yang lalu. Telah menguning dan beberapa bagian diantaranya telah kabur tulisannya karena keseringan kubolak balik dan kubuka.

Tiga tahun ke belakang, penuh dengan kejutan-kejutan yang tak terduga. Banyak hal yang telah terjadi. Ada  yang sesuai dengan skenario yang telah kurancang, lebih banyak lagi yang melenceng dari perencanaan awal hidupku. Banyak hal yang kurenungi dan menjadi bahan muhasabah tak putus-putus. Dari sekian banyak grand disain yang telah kurancang memang tidak semua yang tercapai. Kalaulah boleh dikalkulasikan dengan hitung-hitungan matematika, maka tidaklah sampai 75 persen dari perencanaan itu yang berhasil kutembus. Namun satu hal aku sadari, ku pelajari dan ku coba untuk mengambil sisi baiknya. Ternyata lebih banyak lagi hal-hal yang tidak kuminta dan tidak kurencanakan telah tercapai di tahun 1432 H. Banyak kejutan dari Allah, yang terkadang bahkan tak sampai logikaku untuk memikirkannya, dan tidak sampai akalku untuk mencapainya, namun ternyata telah berhasil ku gapai dengan izin Allah. Apa-apa sajakah itu? ahh..aku tak perlu menceritakannya padamu teman, karena ini sifatnya agak rahasia, hehe..  cukuplah untuk konsumsiku berdua dengan Allah saja.

Dan kini, yang semakin aku sadari dari hari ke hari adalah, bahwasanya kita boleh berencana, kita boleh bermimpi dengan sematang-matang perencanaan, dengan sesunguh-sungguh do’a, dengan segigih-gigih usaha, namun di balik semua itu tetaplah rencana Allah jua yang akan berlaku. Skenario IA jua yang akan terjadi. Karena Allahlah sutradara yang Maha Hebat yang pernah ada dan akan selalu begitu selamanya.

Kalau Allah berbaik hati beri aku kesempatan untuk menjalani tahun 1433, maka dengan bangga inilah peta dan proposal hidup yang akan aku persembahkan. Apapun hasilnya aku hanya ingin satu hal saja, berprasangka baik pada Allah selalu. insyaAllah.

Hmm..satu jam berlalu, sepertinya tidak ada tanda-tanda acara kajian dhuha akan dimulai. Bahkan beberapa orang telah merapatkan langkahnya ke pintu masjid untuk bersegera beranjak pergi. Yap. Tidak apa-apa. Akupun akan segera berlalu. Menuju medan jihad yang baru.

Sampai jumpa kawan, sampai bertemu di lain-lain masa dan usia. Semoga Allah senantiasa memudahkan dan memberikan kelancaran untuk setiap doa dan usaha kita di tahun baru ini.

Salam Jihad..Salam perjuangan.

Gundah

Luas sekali alam Allah

Malam ini..

Saat tetes hujan terakhir singgah di jemariku

Namun itu tak mampu melegakan hatiku yang sesak

Kemana ia hendak tumpah?

Ada banyak kosakata hendak kubagi

penyulut semua gundah jiwa

hanya Allah tempat mengadu

Pelita itu,,berilah petunjuk ya Rahman..

agar tidak ada yang terluka, agar tiada nestapa

Ya Habib..hamba sungguh lemah. hanya Engkau saja yang Maha Kuat.

Ampunkanlah hamba, dan beri petunjuklah hati yang rapuh ini..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.