Rindu…

Desember 1, 2009

“Ya Allah…cepatkanlah selesaikan pekerjaan kakakku ini, biar kami dapat berkumpul seperti dulu lagi ya Allah…amiiiinn…”
Sender :E9 Dona

+62813745284xx
Dikirim : 1 des 2009
18:25:04

Sore itu, dalam keheningan dan kesyahduan menunggu adzan magrib berkumandang, di posko Disaster Management Unit Dompet Dhuafa Lubuk alung, Pariaman…spontan aku tertegun,..perlahan rasa haru menyelusup di ruang kalbu.

Sms singkat, dari adikku di asrama Etos. Ini bukan sms yang pertama, sudah sering sangat. Kusimpan dengan rapi dalam memori HP dan hatiku. Lama sudah kutinggalkan mereka. Dua bulan. Aku rindu, benar-benar. Rindu keluarga kecilku yang unik, adik-adik dengan kepolosan mereka, dengan kebaikan, perhatian dan kasih sayang yang selalu mengisi hidupku sehari-hari. Dulu..sebelum gempa 30 September, aku ingat. ” kak pamit pergi sebentar ya… beberapa hari saja, menjadi relawan sekolah ceria di pariaman, kak usahakan cepat kembali..doakan ya..^_^ ” Aku bertekad hanya pergi sebentar saja. Tapi ahh..siapa yang tahu perjalanan hidup. Dua minggu pasca menjadi relawan sekolah ceria, aku tetap harus bergabung dengan tim penanganan bencana Dompet Dhuafa. Membantu beberapa pekerjaan di posko ini yang memang butuh tenaga.

Rindu..pada mereka, pada keusilan mereka, pada kemanjaannya, juga tingkah polah mereka yang kadang seperti bayi. Pun beragam karakter yang membuatku makin kaya dan dewasa. Entah bagaimana nasib mempermainkanku..60 hari sudah, kuhitung dengan cermat, aku meninggalkan mereka. ”Dik, kakak juga rindu, kalau Allah tak lagi pertemukan kita di dunia, semoga JannahNya adalah tempat pertemuan kita berikutnya..”


sejenak merenung

November 30, 2009

Sejenak merenung..mengingat semua yang lampau..dalam deburan ombak yang tak henti-henti menghempas,.
Duhai jiwa..disini dirimu kini..terdampar dalam pulau ketakjuban..
Banyak sudah yang engkau lalui, suka dan duka..namun ternyata benar kata orang bijak,,hidup itu bagai roda pedati..sesekali kita akan dibawah, sesekali diatas. Demokianlah selalu. Tiada henti..
..
hh..aku merenung lagi, mengingati masa yang lalu…tawa-tawa itu, canda ria..juga hari-hari berat yang penuh air mata. Menetes dalam kerapuhan hati yang makin renta..sayang ia tak berpenyangga..kadang tak cukup kuat menghadapi kegilaan dunia..
disini kini, hati ini masih mengingati masa lampau…
mengingati itu, sungguh..ada skenario Sang penguasa yang tak sanggup ku jangkau..diluar alam sadarku..
aku kadang terkapar, tercabik, terluka.. sampai ku kira ia takkan pulih lagi..
namun ada masanya ia melayang terbang, bersama wanginya bunga melati yang berseri….
tapi acapkali terlindas belati-belati tajam..
ia rapuh sudah.. tapi ia masih kuat.. aku salut sungguh
disini kini..aku merenung lagi..akan mimpiku yang tinggi
akan khayalku yang kadang muluk..
andai engkau tahu mimpiku teman, engkau pasti akan tertawa..entah geli entah kasihan..
tapi aku tak peduli..bukankah mimpi itu harus muluk? Aku tak peduli..karena ini mimmpiku, dan yang akan berjuang untuk ini adalah diriku..bukan engkau..
disini kini aku merenung lagi..
akan hamparan lautan yang makin luas,..dulu aku pikir, lautan hanya seluas tapak kaki..tapi kini aku sadar, luasnya dunia tak terperi…aku telah bertekad,,,ia akan kusebrangi..
disini kini..disela kenangan masa silam yang kadang merajuk hati..aku tak mau terjebak lagi
masa depanku ada didepan, bukan dibelakang dalam paruh usiaku yang telah berlalu pergi
Disini kini..untuk kesekian kali..aku merenung lagi

Lubuk alung..kala malam telah larut


Aku bertemu angin lagi

November 19, 2009

Aku bertemu angin lagi.
Tapi kali ini ia sedang tidak ramah.
Menderu…menghempas, meradang penuh nafsu, hingga darahkupun mengalir deras sampai ke ubun-ubun. Menggetarkan raga. Aku gemetar. Matanya merah menyala. Aneh. Sorot itu.Tak damai. Tak sejuk. Aku takut. Tapi aku tak mau ia pergi
Angin itu.. pergi tanpa kata, tapi sungguh aku rindu. Aku rindu sosoknya, angin itu..lagi


Apakah ini karena ia menantang Allah? (part 2)

September 30, 2009

Ini kisah adikku, yang kuceritakan ulang disini. Setiba aku dikampung menjelang lebaran lalu. Ceritanya menggebu tak henti-henti. Dan kelelahankupun hilang mendengar ceritanya.

“Niko, teman sekelas iim di madrasah meninggal kemaren, uni”. Ia memulai ceritanya.”Innalillahi wainna ilaihi rajiun” jawabku, aku kenal niko. Teman sekelas adikku di madrasah yang tinggal di jorong Panyinggahan, namun aku tak begitu tertarik. Karena menurutku walaupun ia masih 13 tahun, tapi toh ajal bisa direnggut Allah kapan saja, kan? Namun ternyata ceritanya tidak berhenti sampai disana. “uni tahu ndak, kenapa niko meninggal?” Adikku semakin gencar bercerita melihat kekurang antusianku “karena lah sampai ajalnya im” jawabku polos. “eee..uniko, dak itu maksud iim do..kalau itu iim lah tahu lo mah..”. ia mulai cemberut, kesal dengan sikapku. Kuperhatikan mimiknya yang comel.”iyo..iyo, uni dak tahu do, ceritalah dek..” jawabku sambil menahan geli. Seketika wajahnya cerah melihat aku mulai semangat menyimak kisahnya. begini uni…

Jumat kemaren,  tepat jam 12 niko disuruh ibunya untuk menyelam mencari pensi di danau. Para tetangga sudah mengingatkan untuk tidak turun ke danau saat itu. Karena sebentar lagi shalat jumat akan ditunaikan. Ditambah lagi pada saat jam 12 an matahari sedang berada di ubun-ubun. Menyengat sekali. “Nanti aja tek, setelah jumatan. Matahari sedang tinggi. Nanti niko sakit,  Lagipula kan niko harus shalat jumat” Demikian salah seorang tetangga mengingatkan. Ibu niko meradang “ dak usah diatur-atur pulo den..Niko tu anak den..”.” Iyo tek..ambo lai tahu, tapi rancaklah si niko shalat Jumat dulu, beko baa-baa pulo inyo di dalam danau, lagipulo niko lah gadang . lah kanai kewajiban shalat jumat.” Ia masih tak jemu memberi nasehat. “Dak usah ikut campur, den dak takuik do. Kok iyo batua kecek waang, caliaklah beko…kok mati anak den, baru den picayo..”

Adikku bercerita semakin tak terbendung. Aku sudah ternganga dari tadi. Beraninya ibu itu. “trus gimana dek..?” Aku makin penasaran. Demi melihat reaksiku, adikku langsung memasang aksi jual mahal.”ehm..ehm…tertarik juga ya…?” Katanya nyegir kuda. Gantian aku yang cemberut. “iimmm….” Aku mulai mencubiti pinggangnya.”iyo…iyo…iyo..uni”. Adikku kegelian. Kemudian ia kembali bercerita.

Setelah shalat jumat, kami bermain-main ke danau untuk berbiduk-biduk, saat itulah kami mendengar raungan histeris dari tepian mandi tek Joani…spontan kami berlari kesana, mengurungkan niat untuk menurunkan biduk ke tepian. Di sana kami melihat ibu niko meraung-raung tak henti-hentinya. Disampingnya tergolek kaku tubuh niko. Ia telah meninggal. Dari cerita tek piah, Niko tengah menyelam danau untuk mencari pensi saat itu. Tepat ketika khatib jumat di mesjid menyelesaikan khutbahnya. Setelah itu ia tak muncul-muncul lagi ke permukaan. Ternyata pada saat menyelam itu, kakinya terjepit di antara dua buah batu besar yang ada di dasar danau, dan tak bisa ditarik. Sampai niko tewas kehabisan napas di bawah sana.

Adikku menarik napas dalam-dalam. Mengakhiri ceritanya. Aku termangu. Berusaha mencerna cerita adikku barusan. Ngeri . Sungguh, kesudahan yang tidak baik.

“ Uni…”Adikku menyentuh tanganku lembut. “Bisakah itu disebabkan, karena ibu niko menantang Allah?”. “Menurut iim, Allah menunjukkan betul pada kita terutama ibu Niko, bahwa kita tidak boleh menantang Allah, dak boleh sombong sama Allah. Dak boleh tinggi hati, pada makhlukNya. Apalagi pada Allah” Adikku berbicara sambil matanya memandangi air danau Maninjau yang sedang riak-riak kecil. “ iya dek..betul. Kita tak punya hak untuk sombong. Cukuplah syetan saja yang telah diusir dari Syurga dan dijanjikan neraka oleh Allah karena sombongnya” Jangan sampai kita menjadi teman syaitan di neraka nanti, ya dek..Nauzubillah…”. Aku menambahkan. Adikku sudah semakin besar saja. Pola pikirnyapun sudah semakin terbentuk dan terarah. Agaknya jiwa kritisnya sudah mulai berkembang pesat. Ia manggut-manggut mendengar jawabanku. “iya uni, InsyaAllah…”.

Semoga ini menjadi pelajaran berharga baginya, bagiku, juga bagi kita semua. Wallahualam


Hari itu aku bertemu angin

September 30, 2009

Hari itu aku bertemu angin. Ia ingin pergi ke utara. Ia tersenyum lembut padaku. Menyegarkan. “Len, tunjukkan aku arah utara..”pintanya. kuputarkan telunjukku ke delapan penjuru mata angin. Ia tertawa geli.” Arah utara len, bukan semua mata angin”..hehe. ia kukerjai, tapi ia tak marah. Ahh..kasihan, sepertinya ia tersesat. Lalu kutunjukkan arah yang benar. “terimakasih ya…”ujarnya sambil berlalu. “hei..angin, tunggu. Apa pasal niat nak ke utara..?” Aku bertanya penasaran. “aku ingin membawa kabar untuk seorang di utara, ada pesan singkat dari sahabatnya di selatan”. Angin dengan senang hati menjawab. “boleh ku tahu apa pesannya?’ Aku bertanya lagi, sambil mengerjap-ngerjapkan mata menggodanya. “Boleh, tentu saja. Sahabatnya ingin mengatakan bahwa dia mencintai sahabatnya karena Allah, dan dia berharap pertemuan dengannya di syurga kelak”. Aku pergi dulu ya…, Assalamu’alaikum” dan anginpun berlalu.

Hari itu aku bertemu angin. Ia ingin pergi ke utara.


Apakah ini karena ia menantang Allah? (part 1)

September 26, 2009

Pulang kampung kali ini betul-betul berbeda bagiku, begitu banyak hikmah dari kejadian dan peristiwa yang terjadi pada orang-orang dekatku.  Aku jadi tak sabar untuk segera bercerita dengan sahabat semua. Karena jujur saja, reaksi pertamaku saat mengetahui ini adalah kengerian, dan aku jadi tak henti-henti beristigfar…

Asep. Aku kenal baik dengannya. Sangat baik malah, karena ia adalah teman sepermainanku semasa aku masih TK, hingga kelas 5 SD. Aku selalu bersaing dengannya. Bertiga dengan Tuti, sahabat masa kecilku yang satu lagi, kami berlomba-lomba untuk meraih juara kelas. Peringkat juara 1, 2 dan 3 pastilah hanya berkutat dikalangan kami bertiga saja. Dan ia termasuk salah satu saingan terberatku. Bahkan pada saat akhirnya aku yang terpilih menjadi pratami pramuka, dan ketua kelompok perlombaan dokter kecil tingkat SD se kecamatan Tanjung Raya kala itu, ia tetap adalah saingan yang patut kuperhitungkan. Ia termasuk sosok yang pantang menyerah. Amat gigih dalam mencapai keinginannya. Aku salut.

Ketika masih kelas lima SD, kami ditugaskan untuk membuat karangan mengenai laut. Tentu saja kami sekelas menulis dengan sangat semangat dan antusias. Gurupun meyuruh kami untuk membacakan hasil karangan masing-masing di depan kelas. Ya..dengan gaya yang berbeda-beda  akhirnya kami satu persatu tampil ke depan kelas untuk membacakan hasil karangannya. Begitu banyak yang bercerita mengenai kedahsyatan dan keindahan laut. Kekuatan yang tersimpan di dalamnya, juga kengerian yang tercipta kala cuaca sedang tidak bersahabat. Begitu juga dengan hasil karanganku. Tak jauh beda.

Namun ketika giliran Asep untuk membacakan hasil karangannya, apa yang ia bacakan membuat kami semua khususnya aku terpana. Aku tak ingat persis redaksi kata-katanya, tapi aku ingat inti dari karangannya

“ aku tidak percaya pada kekuatan laut, banyak yang mengatakan bahwa laut itu begitu dahsyat. Namun bagiku laut itu bukan apa-apa. Kalau memang laut sehebat itu, maka ku tantang, nanti aku akan mati di laut”

Waktu itu aku cukup tercengang dengan hasil karangannya. Tidak menyangka dia yang masih sekecil itu bisa membuat kalimat yang demikian berani. Seusai pelajaran Bahasa Indonesia kudekati dan kutanya.” Kenapa seberani itu membuat tulisan tersebut? Bukankah itu menantang ketetapan Allah?”. Dengan yakin dan lantang ia menjawab “ Ya! Ku tantang. Lihat saja nanti!” lalu iapun berlalu. Waktu itu, aku tak terlalu ambil pusing sebenarnya, karena toh kami masih anak-anak. Dan aku segera lupa dengan kejadian tersebut. Namun ketika aku mendengar kabar tentang ia baru-baru ini, spontan memori di otakku kembali me-rewind kejadian itu.

Waktu terus berlalu. Karena aku harus segera pindah ke Padang untuk melanjutkan sekolahku. Aku tak lagi mendengar kabarnya sampai suatu hari. Ia bekerja sebagai awak sebuah kapal . dengan gaji yang sangat tinggi. Bahkan mampu menghidupi keluarga besarnya di kampung. Makmur menurutku.

Suatu kejadian yang naas menimpanya. Kapal yang dinakhodainya bersama dengan rekan-rekannya yang lain ditemukan terbelah dua, dengan salah satu sisi yang hancur berkeping. Dari tujuh orang yang dinyatakan hilang pada awalnya, Cuma ditemukan empat mayat. Sedangkan tiga lainnya tidak ditemukan dan dinyatakan hilang. Asep salah satu diantara yang dinyatakan hilang. Kejadian itu sudah terjadi setahun yang lalu, dan sampai sekarang Asep tidak diketahui rimbanya. Pihak keluargapun sudah berusaha untuk mengikhlaskan kepergiannya.

Bagiku kejadian ini tidak akan sangat berkesan sekali kalau aku tidak teringat akan kisah masa kecil kami. Saat ia membuat karangan itu. Entahlah, aku tidak tahu pasti, apakah ini sebuah kebetulan. Ataukah mungkin ini cara Allah untuk menunjukkan kekuasaannya. Bahwa tidak ada yang luput dari perhatianNya. Bahkan untuk sebuah perkataan dan pernyataan yang telah terjadi bertahun-tahun lalu sekalipun. Itu rahasia Allah. Tapi kuambil pelajaran dari kisah ini. Banyak. Sehingga, lagi..aku dibuat bertafakur cukup dalam.

Semoga kisah ini bisa bermanfaat juga untuk sahabat yang secara tidak sengaja membaca tulisan ini. Agar kita lebih berhati-hati dalam berkata dan berucap. Karena barangkali benarlah kiranya, kata-kata adalah doa. Wallahualam bisshawab.


Hari baru

September 17, 2009

Penuh cahaya, rasanya..tak pernah secerah ini. Hmmmhh.. ku lepas napas dengan bebas ke alam raya. Disambut kicauan burung-burung di dahan rambutan, juga bunga warna-warni yang masih berselimut embun. Mewarnai hari baru penuh sukacita.
Hilang sudah segala duka, lega sudah jiwa dan raga,bahkan akupun telah lupa apa rasanya lara. Sungguh Rabb.. yang Maha kuasa.. tiada pernah salah, tiada pernah keliru.
Inilah proses panjang dalam hidup, belajar mendewasakan diri lebih dan lebih. Meski hidup tak selalu mengalir lancar, bagai air sungai yang terhambat batu-batu cadas.
Namun hidup tak boleh berhenti. Ia harus terus dilanjutkan. Karena berani hidup berarti berani berjuang. Meski untuk itu, harus ada air mata yang mengalir.
Namun, untuk episode kali ini, mendung telah berganti dengan pelangi indah nan mempesona. Episode esok siapa yang tahu, maka..mari hadapi, hayati, dan nikmati. Karena dengan Allah..semuanya terasa amat indah.
Alhamdulillah


Di penghujung ramadhan

September 17, 2009

Di penghujung ramadhan
Tak ingin ku melihat duka itu, dinda…tak sanggup ku melihat tangisan mu. Tapi aku tak punya pilihan. Aku begitu menyayangimu, sehingga untuk mengatakan kenyataanpun aku begitu lemahnya..

Di penghujung Ramadhan,
ujian keimanan bagiku, bagimu.. bagi keluarga kecil kita..meski kita tidak lagi bersama, namun doaku teriring untukmu.
Tegar tatap matamu, membuatku makin tak tega. Tapi sungguh.. aku menyayangimu, dinda.

Di penghujung ramadhan
Pergilah, dengan semangat tak tergoyahkan, karena dirimu sosok istimewa, karena engkau luar biasa.. Jika kita tak lagi bertemu di dunia fana ini, maka mari berdoa..semoga Syurga Allah adalah tempat pertemuan kita berikutnya

Dengan segenap rasa sayang
Untukmu dinda


Pengingat diri

Agustus 29, 2009

” aku minta pada Allah setangkai bunga segar, Dia beri aku kaktus berduri, aku minta pada Allah hewan mungil nan cantik, Dia beri aku ulat berbulu, Aku sangat sedih, kecewa dan protes. Betapa tidak adilnya ini. Tapi kemudian kaktus itu berbunga, sangat indah dan ulatpun tumbuh dan berubah menjadi kupu2 yang teramat cantik.. itulah jalan Allah..indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi Allah memberi apa yang kita perlukan, walau kadang sedih, kecewa dan terluka. Tapi jauh di atas segalanya, Dia sedang merajut yang terbaik untuk kita…”

Sebuah sms tausiyah dari sahabatku di jalan Allah…tepat pada saat aku bertanya pada Allah “mengapa dan mengapa? “ Terimakasih … telah beri aku penguat saat kaki mulai rapuh dan goyah, telah buat aku malu sama Allah akan kekerdilan dan kepicikan diri ini. Sahabat, memilikimu di jalan dakwah adalah anugerah. Benar-benar


Mencari

Agustus 25, 2009

Mencari
Dalam hari-hari berat yang penuh beban
Menguras energi cadangan yang telah kusiapkan
untuk perjalanan yang panjangnya akupun tak tahu
Dimana? Dimana? Dimana?
Padahal dunia tak gelap. Tapi mengapa ia tak tampak.
Padahal disini ada lentera, tapi
Mengapa tak jua kutemukan.
Oh..sesulit inikah rupanya, berat dan berat
Susah dan sulit
Habis energiku, penat kakiku, dan peluhku pun kering sudah,
bahkan darahku pun telah berhenti menetes, meski satu satu
Namun tak jua kutemukan
Apakah ia hilang? Ataukah telah hanyut bersama aliran batang Antokan yang makin deras dan deras
Aku lelah bunda, aku penat.
Tapi tekad ini, aku kan terus mencari,
Aku yakin pasti. Ia ada di suatu tempat. Tersuruk mungkin
Dan kupastikan suatu hari nanti ia kan berkilau
Bagai permata dari dasar samudra