Di suatu sore..

Hari pertama Ramadhan 1432 H. Kota Padang lengang. Saat-saat yang kusuka. Aku senang melihat kota ini tenang dan damai begini. Jarang-jarang soalnya. Tak terlalu banyak mobil lalu lalang di jalan Damar, tempat aku biasa berjalan 10 menit menuju angkot lurus ke Pasar baru sepulang dari kantor di jalan Juanda. .

Mungkin semua orang ingin berbuka puasa dengan keluarga di rumah saja, atau juga karena masih dalam masa libur mahasiswa yang banyak pulang kampung, sehingga kota yang sepertinya makin lama makin padat ini justru begitu lengang dan senyap. Aku tak mau buru-buru pulang. Entah kenapa sore ini jiwa pengembaraku sedang menggila. Hahaha..

Ku nikmati berjalan di tengah jalan raya, setelah sebelumnya celingak celinguk ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada kendaraan yang mau lewat. Ahh senangnya..

Tiba-tiba sesampai di depan gedung Bank Mandiri aku diteriaki satpam. “oiii diak..dilantak dek oto beko tu…” keras sekali. Membuatku kaget dan terbirit-birit menepi. Ahh si bapak, bikin kaget saja. Aku cuma bisa nyengir ke arah sosok tinggi besar dan berkumis tebal itu, yang masih saja mengomel tak jelas. Hehe..lucu juga. Kubalas teriakannya. “mokasi yo pak, insyaAllah dak dilantak oto do pak, langang mah,,” kataku tak mau kalah, mempercepat langkah sebelum mendengar gerutuan si bapak lagi
sabar dong pak, hari gini marah-marah..puase tak?”, giliranku yang ngomong sendiri, lamat-lamat, takut kedengaran si bapak berkumis tebal.
Belum lagi tiga langkah, tiba-tiba adzan magrib berkumandang. Kulihat bapak-bapak yang marah tadi sudah menyeruput segelas air yang telah disediakan tadi. Hehe..semoga berkah ya pak.. aku tersenyum
Sesampai di jalan Pattimura, tidak ada angkot satupun. Tidak satupun sodara-sodara.. wuihh..keren euy..mana pernah ada angkot yang ga nge-tem di simpang ini pada hari-hari biasa. Tapi hari ini benar-benar istimewa. 10 menit aku menunggu, akhirnya angkot yang kutunggu datang juga. Bersegera aku naik, walau sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disini, tapi malam sudah semakin matang, jangan sampai nyampe di rumah ketika bumi sudah menghitam. Hehe..
Aku naik, seketika angkotnya jalan. Hanya ada enam orang dalam angkot itu. keenamnya laki-laki. He..risih juga, dan alamaaaak..keenam orang itu mengepul-ngepul, seperti layaknya kereta api wisata yang selalu setia lalu lalang Padang-Padang Pariaman setiap hari. Aku benar-benar jengah. Asli.. aku termasuk orang yang paling benci dengan asap rokok. Waduhh..gimana ini? tanpa pikir panjang, ku sapa bapak yang duduk di sebelahku. “bapak, sebelumnya benar-benar mohon maaf, saya tidak tahan dengan asap rokok, kalau bapak tidak keberatan, bersediakah bapak mematikan asap rokok bapak barang sebantar, minimal sampai saya turun di tujuan saya nanti?, saya betul-betul tak tahan pak, mohon maaf”., saya pandangi bapak itu dalam-dalam.

Hmm.. Alhamdulillah beliau tidak keberatan. Diikuti oleh empat orang yang lain, yang rupanya tanpa perlu kutegur terlebih dulu, sudah tahu diri. Naah..laki-laki yang keenam, yang duduk berhadapan denganku, tiba-tiba berkata patah-patah sebelum sempat aku membuka mulut. “ndeh diak..maaf bana ko, ambo iyo tahu adiak dak bisa jo asok rokok, tapi ambo dak bisa kalau dak marokok diak, bisa paniang ambo dek e.., saharian tadi ambo lah manahan untuk ndak marokok, Bialah ambo pindah ka dakek pintu diak..” dan benar dia melakukannya. Bergegas beranjak dekat pintu.

Kuucapkan terimakasih, untuk semuanya, termasuk si Bapak yang baru pindah. urung juga aku menegurnya, padahal aku sudah menyiapkan redaksi kalimat-kalimat anggun untuk menegur beliau juga. Aihh..tengoklah di dekat pintu, si bapak mengepul-ngepul seperti Mak itam, yang tiap hari mondar mandir Padang- Padang pariaman.
Ternyata begitulah kalau sudah kecanduan, kasihan..sedih sebenarnya melihat beliau, juga melihat orang-orang lain yang telah diperbudak oleh makhluk yang bernama rokok. Kasihan si perokok, lebih kasihan lagi kita, para perokok pasif yang tidak sengaja hampir setiap hari ikut menghisap limbah mereka. Sempat terpikir olehku, bagaimana kalau dibuat peraturan yang isinya kurang lebih begini” SILAKAN MEROKOK SESUKA ANDA, DENGAN SATU SYARAT, JANGAN TEBARASAPNYA SEMBARANGAN, DAN SETIAP METOKOK ASAPNYA HARAP DITELAN”. Hahahaa…
Ahh sudahlah, ini perlu kajian mendalam kurasa. Karena memang tak mudah melepaskan kecanduan yang satu itu.
Oke, ..beberapa menit lagi sampai di rumah. Waktunya istirahat dan berbenah. Kalau Allah tak keberatan, hari esokku masih panjang, insyaAllah

2 Tanggapan to “Di suatu sore..”

  1. Senang membaca ceritamu… Jadi membayangkan bagaimana Kota Padang yang pernah kudatangi…
    Betewe, aku perokok juga , tapi asapnya ga masuk di blog ini kan.. :D
    :) Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

  2. maghdalena1 Berkata

    Pak Mochammad, begitulah kota Padang di hari pertama ramadhan, hampir tiap tahun begitu.
    bapak orang padang bukan ya?
    sepertinya asap rokok bapak sudah mulai tercium sampai beranda blog ini deh..hehe..#kidding

    btw, makasih udah berkunjung ya pak..semoga ga kapok :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.