Untuknya, Bidadari Syurga

110911. 08.35 AM

Teteteeeettt..tititiiiiitt..

Hapeku bernyanyi merdu. Spontan aku tersentak. Pasalnya konsentrasi lagi penuh sih..mengerjakan beberapa proyek tulisanku yang belum juga rampung.

Sebuah nama indah terpampang di layar HPku: Bidadari Syurga. Yup..sosok yang amat penting dalam hidupku, bunda.

Ahh..ibu kangen nih sepertinya.

“assalamu’alaikum cantik”. Seperti biasa, itu sapaan ibu kalau menelponku..

“waalaikumsalam bunda”..kangen ya?” tanyaku spontan sambil nyegir kuda.
“siapa yang kangen, ini salah sambung niiiih…” Suara di seberang sana menyangkal membela diri.

Wuahahaaaa..spontan aku tergelak.

Tidak sekali dua bunda menelponku, tepatnya kami bertiga. Aku dan dua adik perempuanku yang saat ini sudah merantau ke Padang.

Ya.. semua anak ibu yang perempuan sudah pergi merantau (walaupun masih di Sumbar). Tidak lagi membersamai ibu menjalani hari-hari di sela alunan ombak danau.

Begitulah, aku..sudah jelas-jelas sejak lama merantau. Sejak umurku 3,5 tahun aku tak lagi tinggal bersama ibu dan keluargaku. Tapi diasuh nenek sampai beliau dipanggil Allah, dan kemudian tinggal dengan mami, sampai akhir 2007 lalu. Yah..tak pernah aku yang benar-benar tinggal dengan ibu. Kalaupun ada, paling cuma beberapa hari, sewaktu liburan sekolah dan pas hari raya. Dan aku benar-benar sudah terbiasa berpisah jauh, dengan ibu dan keluargaku. Kata teman-temanku, karena itulah aku jadi tak terlalu banyak tergantung pada siapapun, karena sudah terbiasa sendiri dan memenuhi kebutuhan sendiri.

Adik perempuanku yang kedua juga sudah lama tidak bersama ibu. Sejak kelas 3 SD tidak lagi membersamai beliau. Saat ini sudah duduk di tahun akhir IAIN Imam bonjol Padang.

Nah.. anak perempuan terakhir dalam keluarga kami juga saat ini telah meninggalkan ibu dan kuliah di Padang. Sudah seminggu ini.

Otomatis tidak ada lagi anak perempuan ibu yang bersama beliau di kampung saat ini. Aku tahu pasti dampaknya bagi ibu secara emosional. Beliau lebih banyak termenung, dan menjadi lebih sering menelpon kami atau bahkan hanya sekedar miscall. Sering kutawarkan pada beliau untuk tinggal di Padang bersama kami, namun beliau selalu menolak, dengan alasan tidak mungkin meninggalkan kampung.

Ya..ini memang pilihan hidup. Aku  yang paling gencar agar adik perempuanku yang paling kecil kuliah di Padang, karena aku yakin kalau hanya dikampung, ia cuma akan menghabiskan hari untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku ingin adik-adikku mencapai pendidikan tinggi. Walaupun aku harus berjuang keras untuk itu. diskusiku dengan ibu tentang ini tidak begitu banyak menyita energi. Ibu setuju-setuju saja, apalagi ini demi kepentingan pendidikan anak-anaknya. Tapi memang konsekuensi di balik itu jadinya ibu terpaksa tidak lagi punya anak perempuan di sisinya setiap saat, seperti layaknya hari-hari ibu sebelumnya.

Aku mengerti, sangat mengerti dengan kondisi ibu..perasaan beliau. Karena itulah aku juga paham kalau beliau jadi sering nelpon, atau sekedar miscall di sela-sela kesibukan kami.

Ahh.. aku hanya inginkan kebaikan untuk keluargaku, untuk masa depan adik-adikku. Dan ibupun paham dengan semua itu. satu hal..ini adalah hal yan sangat manusiawi bagi beliau.

“ Siapa yang akan memasakkan nasi ibu lagi ya?, tak ada lagi yang akan memijit kaki ibu kalau ibu keletihan pulang dari ladang”..

Ahh.. kata-kata ibu itu, sering  meninggalkan rasa yang teramat dalam di hatiku.

Aku yakin ibu tahu,, kami menyayangi beliau dengan sungguh..cinta dan kasih sayang kami berlimpah-limpah untuk beliau, kami juga telah bertekad untuk lebih sering menelpon ataupun mengunjungi beliau di kampung. Agar kerinduan beliau terobati..

Ahh..ibu, bidadari kami, anak-anaknya. Sungguh kami sayang..

Di bait-bait riak danau maninjau, disanalah pandangmu terhempas.

Juga senandung doamu di sebalik malam, di atas sajadah yang kian pudar..

Mengalir cinta di relung jiwa, membawa kesejukan di hati-hati kami..

Doa yang selalu dilantunkan, sehingga kuat langkah ini, damai jiwa ini, tenang hati ini

Duhai bunda kami yang jelita..

Kami kan kembali, membawa rangkaian bunga berbentuk hati..

Seribu rasa untukmu bunda,

Sungguh kami cinta

Satu Tanggapan to “Untuknya, Bidadari Syurga”

  1. Gerizal Alwi Berkata

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.