Arsip untuk Desember, 2011

Markaz..

Posted in Jenak, Sederhana on Desember 30, 2011 by maghdalena1

Harusnya aku rapat sore ini, untuk sebuah amanah yang cukup penting menurut hematku, tapi hanya ada dua orang yang datang. Tak mungkin rasanya melanjutkan rapat ini. Tidak kondusif.

Tak pelak, terpaksalah aku menghabiskan waktuku di ruang tamu markaz ini. Sambil menunggu seorang sahabat  yang juga sedang rapat lain sembari menanti jarum panjang jam di dinding itu beringsut ke angka 12 dan jarum pendeknya berdiri tegar di angka enam. Hehe..Hmm..tepatnya bukan menghabiskan waktu sih, tapi mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat. Salah satunya menulis ini.hehe

Ku tatap ruangan markaz dakwah ini. Yang perlahan tapi pasti beranjak megah dan kondusif. bangunannya kokoh, enak dipandang, sejuk dilihat, dan nyaman untuk beraktifitas. Markas yang akan senantiasa dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai ide-ide segar dan pemikiran-pemikiran kreatif para pejuang-pejuang kebaikan. insyaAllah..

Aku yakin, kekokohan bangunan ini juga akan menjadi pencetus semakin kokohnya bangunan kekuatan dan kesolidan jamaah ini. Subhanallah kembali aku memuji Allah.

Terngiang kembali cerita ustadzahku dalam pertemuan rutin kami tentang perjuangan para pendahulu dakwah ini akan susahnya mencari tempat yang kondusif untuk bisa berkumpul, berdiskusi dan bertukar pikiran demi memberikan kemaslahatan yang lebih banyak lagi bagi umat, bagi dakwah ini.

Dulu, tidak banyak tempat yang bisa digunakan untuk berbagi pikiran dan bermusyawarah. Tidak semudah sekarang. Perjuangannya jauh lebih berat. Amat sangat berat. Dari rumah ke rumah, dari masjid ke mesjid, dari warung ke warung. Itu tentang fasilitas, belum lagi tentang perjuangan dakwah yang mendapat kecaman dari  begitu banyak pihak. Ku rasa, salah satu faktor inilah yang mengakibatkan lahirnya para pendahulu yang kuat dan tegar. Para pemimpin yang mumpuni, merakyat dan zuhud. Contoh teladan dalam perlombahan merajut begitu banyak karya dalam kebaikan dan amal shaleh.

Kadang aku kembali berpikir, apakah memang kita harus selalu berada dalam kesulitan dan perjuangan yang payah baru kemudian kualitas kita akan meningkat? Karena seringkali segala kemudahan dan fasilitas-fasilitas duniawi justru mengakibatkan kita agak lalai dan kurang syukur.

Tapi ahh..setelah kurenungkan lagi, pemikiran itu picik sajalah adanya. Zaman telah berubah. Tuntutan zaman sudah semakin banyak dan berkembang. Kata ustadzahku, berdakwahlah sesuai dengan zamannya. Berdakwah hari ini tidak bisa mengandalkan fasilitas seadanya seperti dahulu lagi. Kita akan jauh tertinggal. Kita akan dipandang sebelah mata oleh objek dakwah, jika terus menerus berada dalam kondisi yang serba kekurangan. Kurasa memang benar adanya. Dakwah hari ini harus tampil berwibawa dan elegan, tanpa pernah meninggalkan unsur-unsur kesederhanaan, zuhud, tawadhu dan rendah hati. Sekali lagi ku garis bawahi tanpa pernah meninggalkan unsur-unsur kesederhanaan, zuhud, tawadhu dan rendah hati.

Karena bagaimanapun, dunia terus berkembang pesat, kemajuan teknologi semakin canggih, kita akan tertinggal jika tidak menyesuaikan dengan perubahan zaman itu. Kita akan tergilas.

Dan yang pastinya yang menjadi catatan adalah jangan sampai kita menjadi budak dari perkembangan zaman, tapi justru kitalah yang harus mengendalikannya. Jangan sampai karena begitu banyaknya kemudahan dan fasilitas untuk berdakwah saat ini justru membuat kita terlalai dan melupakan visi dan misi utama dakwah ini.

Ada orang bijak berkata

Jika engkau meletakkan dunia di tanganmu, maka ia akan menjadi budakmu, namun jika engkau letakkan dunia di hatimu, maka ia justru yang akan memperbudakmu.

 

Hmm..mungkin begitulah kira-kira maksudnya. Kalau tidak tepat-tepat betul redaksinya.

Oke, kukira demikian dulu. Sudah jam enam sore. Waktunya pulang. Beberapa mujahid/ah dakwah pun sudah mulai keluar dari ruangan-ruangan rapatnya masing-masing untuk bersegera pulang dan melaksanakan amal jihad yang baru.

Markaz, 291211

Sebuah tulisan ringan sembari menunggu Ve. 

Ibu, madrasah pertama pendidikan berkarakter

Posted in Jenak, Masa Depan on Desember 30, 2011 by maghdalena1

171211. Hari  yang menyengat. Membakar ubun-ubun. Siang itu matahari begitu teriknya. Aku yang sedang bepergian ke pasar raya Padang siang itu mengipas-ngipas tak henti-henti, begitupun penumpang angkot di sebelahku. Bernasib sama. Di tengah suasana gerah itu, tiba-tiba di balik kerumunan para penjual makanan yang ramai di depan mesjid Taqwa Muhammadiyah, berlarian ratusan siswa berpakaian SMP dan SMA. Sontak aku terkejut. Perasaanku mendadak tidak enak. Pikiran aneh mulai bermain-main di benakku.

 

“TAWURAN!!” sopir angkot yang kutumpangi berteriak histeris. Naudzubillah..serta merta bibirku bergumam. Begitupun dengan penumpang lainnya di atas angkot Siteba yang kutumpangi.

 

capek se lai pai da..kalau indak mati konyol wak disiko”. Seorang ibu yang membawa tiga orang anak berseru tak sabar kearah sopir. Demikian juga dengan beberapa penumpang lain. Berteriak-teriak agar sesegera mungkin meninggalkan lokasi itu. tapi sungguh malang, kemacetan kecil terjadi disana sehingga membuat angkot yang kami tumpangi tidak dapat melaju cepat. Harus terseok-seok dulu sebelum akhirnya bisa meninggalkan lokasi tawuran tersebut. Bagaimana tidak was-was, angkot yang kami tumpangi terjebak di antara kerumunan dua massa yang sedang bertikai.

 

Masih sempat kulihat remaja-remaja tanggung dengan sorot mata liar yang saling berkejaran dengan membawa pisau dan benda tajam di tangan. Mata yang haus pelampiasan kekerasan, tak kenal ampun. Jantungku berdetak tak karuan. Berdegub-degub makin tak berirama.

 

Sekilas sebelum angkot yang kutumpangi pada akhirnya berhasil lolos dari jebakan penuh resiko itu, tampak olehku salah seorang siswa dari pihak yang berseteru melemparkan kursi ke arah pihak lawannya, hanya butuh sepersekian detik saja, maka kursi itu akan mengenai angkot yang kami tumpangi, namun Alhamdulillah sopir yang mengendarai angkot kami cukup lihai menghindar dan segera melarikan angkotnya dari lokasi kejadian itu.

Dari kejauhan tampak olehku suasana yang makin panas disana, siswa-siswa berlarian saling mengejar dengan benda-benda tajam dan beberapa orang anak kecil yang menangis karena panik dengan kondisi itu. Aku ingin menolong, tapi sungguh aku tak berdaya..

Baca selebihnya »

It’s all about my BOZZ

Posted in DOMPET DHUAFA on Desember 30, 2011 by maghdalena1

Aku mau cerita tentang dua orang bosku di kantor, mereka sumber inspirasiku. Banget banget banget..^_^

Bos ku yang pertama yang mau kuceritakan padamu  ini bener-bener deh. Ga tahu siang, ga tahu malam sering menelpon diriku. Cintaaa banget kayaknya sama aku. Ingat, dulu pernah jam 12 malam nelpon cuma mau nanya kabar. Atau pernah juga nelpon jam 2 dini hari cuma pengen  bilang kalau di rumahnya lagi mati lampu. Dan ketakutan kalau ada maling yang masuk.haha…si bos penakut juga ternyata euy..(peace bosss…\(^_^)/..)

Tapi bosku yang satu ini hebat banget, sekarang lagi S2 di IAIN Imam Bonjol padang..gimana gimana pun beliau top abiz lah, di sela kesibukan kerja beliau masih sempat mikirin akademisnya. Calon rektor IAIN tahun 2200 (ups,, kelamaan ya boz ya…wkwkwk)

Gigiiih banget. Itu yang ku pelajari darinya. “kareh angok” kalau bahasa kampungku..hehe..begitulah beliau. Selalu menebarkan keceriaan di kantor kami. Apalagi kalau kami bertiga, tim Fundraising Dompet Dhuafa Singgalang  sudah pada ngumpul, pasti heboh banget deehh..beliau penuh dengan ide-ide segar.

Beliau cukup sering bikin kesal bosku yang satu lagi..(nanti kuceritakan tentang bosku yang ini ya)..

Back to topic,yuuuk…

Baca selebihnya »

Semua Karena Allah

Posted in Jenak, Masa Depan, Nasehat diri, Sederhana on Desember 30, 2011 by maghdalena1

Semuanya hanya untuk Allah, semua karena Allah..

Sujud ini, langkah ini, amanah ini, pilihan ini

Aku yakin, Allah tak pilih aku dengan sia-sia..

Yang kuyakini..Ini kesempatan bagiku untuk dapat berlari mengejarMu lebih dekat.

Sungguh ya Allah, yang kuyakini dalam hatiku..besarnya rasa cintaMu padaku..

Sehingganya Engkau pilihkan aku..

Maka ya Habib.., tuntun aku untuk terus berlari mengejar cintaMu..

Beri aku hati yang rendah di hadapanMu..sehingga dengannya aku mampu meraih redhoMu yang agung..

Allah..bantu aku semakin mencintaiMu dengan sungguh, di balik semua skenario indahMu…

Kuatkan aku ya Allah..

Hati Sebening Telaga

Posted in Jenak, Nasehat diri, Sederhana on Desember 3, 2011 by maghdalena1

Kumisnya tebal. Badannya gemuk. Kulitnya agak sedikit legam. Ia masih mengenakan helmnya yang sedikit kumal saat ia mengetuk pintu Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang siang itu. menjelang berkumandangnya adzan jumatan,  2 Desember 2011. Ia adalah bapak yang biasanya mengantarkan Koran langganan kami ke kantor.

“Assalamu’alaikum wrwb, maaf dik, mau bertanya, apakah disini ada kehilangan dompet?. Istri ambo menemukan dompet tercecer beberapa hari yang lalu di depan kantor ini”. katanya

“Beliau itu tunarungu, sebenarnya ia ingin mengantarkan langsung ke sini, tapi ia takut tidak ada yang mengerti ucapannya karena tuna rungunya itu, makanya ia minta saya untuk kesini, menanyakan apakah ada karyawan sini yang kehilangan dompet.”

Kami semua bersorak. Subhanallah..iya, itu pasti dompet Adrius yang hilang beberapa hari lalu.

“ada dua buah sim di dalamnya dan beberapa kartu lainnya”. Ia terus menjelaskan.

Kami semua tersenyum. Saat itu hanya ada aku, Ria, Toni dan Akmal di lantai 1.

“istri saya bilang, pasti yang punya dompet ini akan sangat butuh sekali. Makanya ia suruh saya kesini, nanti saya ajak istri saya kesini ya, buat ngantarkan dompetnya.”  Si bapak masih melanjutkan dengan sumringahnya.

“iya bapak, terimakasih banyak”. Kami serempak menjawab sembari melepas si bapak yang pamitan untuk melanjutkan tugasnya mengantarkan Koran ke pelanggan yang lain.

Ya Rahman..Subhanallah..kami yang menyambut si Bapak di depan hanya bisa memuji Allah. Ternyata orang-orang baik itu banyak. Bertebaran di sekitar kita. Istri beliau yang tuna rungu yang berprofesi sebagai pemulung, ternyata memiliki hati sejernih telaga.

Ini memang hanyalah soalan sederhana. kehilangan dompet, dan yang menemukannya mengembalikannya kembali.

Tapi menjadi tidak lagi sederhana ketika ditilik lebih dalam akan ketulusan niat si ibu, yang cacat dan tunarungu namun memiliki empati yang begitu tinggi.

Teringat kembali kejadian beberapa hari lalu, ketika salah seorang anggota keluarga kecil Dompet Dhuafa Singgalang yang kehilangan dompetnya, adrius, mengalami kepanikan luar biasa. Semua tempat didatangi dan dibongkar, untuk menemukan dompet itu. Itu benar-benar hari yang tidak mengenakkan baginya. Aku yakin itu. kalau hanya kehilangan uang, pastilah tidak akan segalau itu. Namun yang menjadi masalahnya adalah dalam dompet itu terdapat kartu-kartu dan surat-surat berharga. Dapat kubayangkan betapa tidak nyamannya.

Tapi Allah Maha besar. Allah maha kuasa. Kalau ia menghendaki, pastilah tidak ada yang tidak mungkin.

Aku belajar satu hal, jangan menilai seseorang dari kulitnya. “don’t judge the book by its cover

Yup. Nanti siang bapak itu akan datang lagi ke kantor ini untuk mengantarkan dompet itu bersama istrinya. Sudah terbayang olehku ekspresi Adri ketika mengetahui dompetnya sudah kembali.

Dan yang pasti. Sepertinya siang ini keluarga besar Dompet Dhuafa Singgalang akan puas makan donat, karena aku ingat Adri pernah berjanji, jika dompetnya kembali, kami semua akan ditraktir makan donat olehnya. Cihuyyy. Bukankah demikian Adri…??  ^_^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.