Kumisnya tebal. Badannya gemuk. Kulitnya agak sedikit legam. Ia masih mengenakan helmnya yang sedikit kumal saat ia mengetuk pintu Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang siang itu. menjelang berkumandangnya adzan jumatan, 2 Desember 2011. Ia adalah bapak yang biasanya mengantarkan Koran langganan kami ke kantor.
“Assalamu’alaikum wrwb, maaf dik, mau bertanya, apakah disini ada kehilangan dompet?. Istri ambo menemukan dompet tercecer beberapa hari yang lalu di depan kantor ini”. katanya
“Beliau itu tunarungu, sebenarnya ia ingin mengantarkan langsung ke sini, tapi ia takut tidak ada yang mengerti ucapannya karena tuna rungunya itu, makanya ia minta saya untuk kesini, menanyakan apakah ada karyawan sini yang kehilangan dompet.”
Kami semua bersorak. Subhanallah..iya, itu pasti dompet Adrius yang hilang beberapa hari lalu.
“ada dua buah sim di dalamnya dan beberapa kartu lainnya”. Ia terus menjelaskan.
Kami semua tersenyum. Saat itu hanya ada aku, Ria, Toni dan Akmal di lantai 1.
“istri saya bilang, pasti yang punya dompet ini akan sangat butuh sekali. Makanya ia suruh saya kesini, nanti saya ajak istri saya kesini ya, buat ngantarkan dompetnya.” Si bapak masih melanjutkan dengan sumringahnya.
“iya bapak, terimakasih banyak”. Kami serempak menjawab sembari melepas si bapak yang pamitan untuk melanjutkan tugasnya mengantarkan Koran ke pelanggan yang lain.
Ya Rahman..Subhanallah..kami yang menyambut si Bapak di depan hanya bisa memuji Allah. Ternyata orang-orang baik itu banyak. Bertebaran di sekitar kita. Istri beliau yang tuna rungu yang berprofesi sebagai pemulung, ternyata memiliki hati sejernih telaga.
Ini memang hanyalah soalan sederhana. kehilangan dompet, dan yang menemukannya mengembalikannya kembali.
Tapi menjadi tidak lagi sederhana ketika ditilik lebih dalam akan ketulusan niat si ibu, yang cacat dan tunarungu namun memiliki empati yang begitu tinggi.
Teringat kembali kejadian beberapa hari lalu, ketika salah seorang anggota keluarga kecil Dompet Dhuafa Singgalang yang kehilangan dompetnya, adrius, mengalami kepanikan luar biasa. Semua tempat didatangi dan dibongkar, untuk menemukan dompet itu. Itu benar-benar hari yang tidak mengenakkan baginya. Aku yakin itu. kalau hanya kehilangan uang, pastilah tidak akan segalau itu. Namun yang menjadi masalahnya adalah dalam dompet itu terdapat kartu-kartu dan surat-surat berharga. Dapat kubayangkan betapa tidak nyamannya.
Tapi Allah Maha besar. Allah maha kuasa. Kalau ia menghendaki, pastilah tidak ada yang tidak mungkin.
Aku belajar satu hal, jangan menilai seseorang dari kulitnya. “don’t judge the book by its cover”
Yup. Nanti siang bapak itu akan datang lagi ke kantor ini untuk mengantarkan dompet itu bersama istrinya. Sudah terbayang olehku ekspresi Adri ketika mengetahui dompetnya sudah kembali.
Dan yang pasti. Sepertinya siang ini keluarga besar Dompet Dhuafa Singgalang akan puas makan donat, karena aku ingat Adri pernah berjanji, jika dompetnya kembali, kami semua akan ditraktir makan donat olehnya. Cihuyyy. Bukankah demikian Adri…?? ^_^
