Harusnya aku rapat sore ini, untuk sebuah amanah yang cukup penting menurut hematku, tapi hanya ada dua orang yang datang. Tak mungkin rasanya melanjutkan rapat ini. Tidak kondusif.
Tak pelak, terpaksalah aku menghabiskan waktuku di ruang tamu markaz ini. Sambil menunggu seorang sahabat yang juga sedang rapat lain sembari menanti jarum panjang jam di dinding itu beringsut ke angka 12 dan jarum pendeknya berdiri tegar di angka enam. Hehe..Hmm..tepatnya bukan menghabiskan waktu sih, tapi mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat. Salah satunya menulis ini.hehe
Ku tatap ruangan markaz dakwah ini. Yang perlahan tapi pasti beranjak megah dan kondusif. bangunannya kokoh, enak dipandang, sejuk dilihat, dan nyaman untuk beraktifitas. Markas yang akan senantiasa dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai ide-ide segar dan pemikiran-pemikiran kreatif para pejuang-pejuang kebaikan. insyaAllah..
Aku yakin, kekokohan bangunan ini juga akan menjadi pencetus semakin kokohnya bangunan kekuatan dan kesolidan jamaah ini. Subhanallah kembali aku memuji Allah.
Terngiang kembali cerita ustadzahku dalam pertemuan rutin kami tentang perjuangan para pendahulu dakwah ini akan susahnya mencari tempat yang kondusif untuk bisa berkumpul, berdiskusi dan bertukar pikiran demi memberikan kemaslahatan yang lebih banyak lagi bagi umat, bagi dakwah ini.
Dulu, tidak banyak tempat yang bisa digunakan untuk berbagi pikiran dan bermusyawarah. Tidak semudah sekarang. Perjuangannya jauh lebih berat. Amat sangat berat. Dari rumah ke rumah, dari masjid ke mesjid, dari warung ke warung. Itu tentang fasilitas, belum lagi tentang perjuangan dakwah yang mendapat kecaman dari begitu banyak pihak. Ku rasa, salah satu faktor inilah yang mengakibatkan lahirnya para pendahulu yang kuat dan tegar. Para pemimpin yang mumpuni, merakyat dan zuhud. Contoh teladan dalam perlombahan merajut begitu banyak karya dalam kebaikan dan amal shaleh.
Kadang aku kembali berpikir, apakah memang kita harus selalu berada dalam kesulitan dan perjuangan yang payah baru kemudian kualitas kita akan meningkat? Karena seringkali segala kemudahan dan fasilitas-fasilitas duniawi justru mengakibatkan kita agak lalai dan kurang syukur.
Tapi ahh..setelah kurenungkan lagi, pemikiran itu picik sajalah adanya. Zaman telah berubah. Tuntutan zaman sudah semakin banyak dan berkembang. Kata ustadzahku, berdakwahlah sesuai dengan zamannya. Berdakwah hari ini tidak bisa mengandalkan fasilitas seadanya seperti dahulu lagi. Kita akan jauh tertinggal. Kita akan dipandang sebelah mata oleh objek dakwah, jika terus menerus berada dalam kondisi yang serba kekurangan. Kurasa memang benar adanya. Dakwah hari ini harus tampil berwibawa dan elegan, tanpa pernah meninggalkan unsur-unsur kesederhanaan, zuhud, tawadhu dan rendah hati. Sekali lagi ku garis bawahi tanpa pernah meninggalkan unsur-unsur kesederhanaan, zuhud, tawadhu dan rendah hati.
Karena bagaimanapun, dunia terus berkembang pesat, kemajuan teknologi semakin canggih, kita akan tertinggal jika tidak menyesuaikan dengan perubahan zaman itu. Kita akan tergilas.
Dan yang pastinya yang menjadi catatan adalah jangan sampai kita menjadi budak dari perkembangan zaman, tapi justru kitalah yang harus mengendalikannya. Jangan sampai karena begitu banyaknya kemudahan dan fasilitas untuk berdakwah saat ini justru membuat kita terlalai dan melupakan visi dan misi utama dakwah ini.
Ada orang bijak berkata
Jika engkau meletakkan dunia di tanganmu, maka ia akan menjadi budakmu, namun jika engkau letakkan dunia di hatimu, maka ia justru yang akan memperbudakmu.
Hmm..mungkin begitulah kira-kira maksudnya. Kalau tidak tepat-tepat betul redaksinya.
Oke, kukira demikian dulu. Sudah jam enam sore. Waktunya pulang. Beberapa mujahid/ah dakwah pun sudah mulai keluar dari ruangan-ruangan rapatnya masing-masing untuk bersegera pulang dan melaksanakan amal jihad yang baru.
Markaz, 291211
Sebuah tulisan ringan sembari menunggu Ve.





