Ibu, madrasah pertama pendidikan berkarakter

171211. Hari  yang menyengat. Membakar ubun-ubun. Siang itu matahari begitu teriknya. Aku yang sedang bepergian ke pasar raya Padang siang itu mengipas-ngipas tak henti-henti, begitupun penumpang angkot di sebelahku. Bernasib sama. Di tengah suasana gerah itu, tiba-tiba di balik kerumunan para penjual makanan yang ramai di depan mesjid Taqwa Muhammadiyah, berlarian ratusan siswa berpakaian SMP dan SMA. Sontak aku terkejut. Perasaanku mendadak tidak enak. Pikiran aneh mulai bermain-main di benakku.

 

“TAWURAN!!” sopir angkot yang kutumpangi berteriak histeris. Naudzubillah..serta merta bibirku bergumam. Begitupun dengan penumpang lainnya di atas angkot Siteba yang kutumpangi.

 

capek se lai pai da..kalau indak mati konyol wak disiko”. Seorang ibu yang membawa tiga orang anak berseru tak sabar kearah sopir. Demikian juga dengan beberapa penumpang lain. Berteriak-teriak agar sesegera mungkin meninggalkan lokasi itu. tapi sungguh malang, kemacetan kecil terjadi disana sehingga membuat angkot yang kami tumpangi tidak dapat melaju cepat. Harus terseok-seok dulu sebelum akhirnya bisa meninggalkan lokasi tawuran tersebut. Bagaimana tidak was-was, angkot yang kami tumpangi terjebak di antara kerumunan dua massa yang sedang bertikai.

 

Masih sempat kulihat remaja-remaja tanggung dengan sorot mata liar yang saling berkejaran dengan membawa pisau dan benda tajam di tangan. Mata yang haus pelampiasan kekerasan, tak kenal ampun. Jantungku berdetak tak karuan. Berdegub-degub makin tak berirama.

 

Sekilas sebelum angkot yang kutumpangi pada akhirnya berhasil lolos dari jebakan penuh resiko itu, tampak olehku salah seorang siswa dari pihak yang berseteru melemparkan kursi ke arah pihak lawannya, hanya butuh sepersekian detik saja, maka kursi itu akan mengenai angkot yang kami tumpangi, namun Alhamdulillah sopir yang mengendarai angkot kami cukup lihai menghindar dan segera melarikan angkotnya dari lokasi kejadian itu.

Dari kejauhan tampak olehku suasana yang makin panas disana, siswa-siswa berlarian saling mengejar dengan benda-benda tajam dan beberapa orang anak kecil yang menangis karena panik dengan kondisi itu. Aku ingin menolong, tapi sungguh aku tak berdaya..

Tawuran antar siswa

,..dari dulu bahkan sejak aku masih duduk di bangku sekolah tawuran adalah hal yang paling kubenci. Karena aku sadar tidak aada manfaatnya. Kekerasan yang penuh dengan suasana haus darah. Mereka yang tawuran adalah anak-anak usia SMP dan SMA yang menurut hematku seharusnya sudah bisa membedakan yang mana yang baik dan mana yang buruk, namun belum cukup dewasa untuk mengontrol emosinya yang gampang tersulut.

Penyebab tawuran inipun seringkali hanyalah masalah sepele, tentang pacar, karena salah panggil nama, kalah menang pada saat permainan bola dan hal lain tetek bengek yang tidak begitu prinsip sehingga memicu kepada perkelahian antara pelajar bahkan antar sekolah yang seringkali mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Sungguh, aku miris dengan kondisi ini. amat sangat. Yang ada dalam alam tanya dan pikiranku adalah: generasi seperti inikah yang akan memimpin bangsa ini nanti? Hatiku jeri dan perih. Bagaimana kelanjutan masa depan anak cucu kami nanti kalau dipimpin oleh orang-orang berpikiran brutal seperti mereka? Akan menjadi apa bangsa ini kelak? Akankah menjadi sarang penyamun yang akan menyelesaikan segala persolan bangsa dengan kekerasan dan prinsip “semau gue”? lalu setelah itu apa? Dan bagaimana?

Dalam perjalanan pulang dari pasar siang itu hingga detik ini aku masih mencoba menganalisa dimana letak permasalahan sebenarnya. Mungkinkah ini karena kesalahan pola didik dan pola ajar yang belum pas sehingga anak-anak remaja ini seolah-olah tak tahu dengan aturan. Peran siapakah yang belum berjalan dengan benar dalam upaya pembentukan karakter generasi bangsa ini?

Barangkali memang perlu lebih optimal penerapan “pendidikan yang berkarakter” dalam kurikulum sekolah-sekolah di negara tercinta ini. mulai dari tingkat sangat dasar hingga ke tingkat yang sudah lanjut dan bahkan perguruan tinggi. Agar anak-anak yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa ini tidak menerapkan hukum rimba ketika pada masanya mereka harus mengambil alih peran-peran kita pada saat ini. sebagai pemimpin bangsa, sebagai pengusaha, sebagai ulama dan lain sebagainya.

Pikir nalarku kemudian tak henti-henti terus  menganalisa, untuk pembentukan jiwa-jiwa yang berkarakter, yang paling utama sebenarnya adalah peran keluarga. Pembentukan karakter itu harus dimulai dari komunitas terkecil, dari orangtua yang melahirkan generasi-generasi ini. dan yang paling utama sekali adalah dari sosok yang mulia: ibunda. Seorang ibu yang paling dekat dengan anaknya semenjak ia dikandung, dilahirkan, disusui hingga ketika ia perlahan beranjak menjadi remaja dan dewasa. Peran bundalah menurut hematku (selain peran yang tentulah teramat besar dari seorang bapak) yang harus lebih dioptimalkan lagi untuk membentuk generasi-generasi yang berkarakter.

Penanaman nilai-nilai akhlak mulia, proses menumbuhkan rasa empati pada sesama, nilai-nilai kemandirian dan perjuangan , dan penumbuhan sejumlah sifat baik akan lebih optimal dilakukan oleh seorang ibu.

Nah sekarang pertanyaannya, apakah seorang ibu di zaman modern ini sudah berhasil menerapkan metode didik yang tepat pada anak-anaknya? kalau sudah mengapa masih  banyak terjadi permasalahan-permasalahan dan unjuk kenakalan di kalangan remaja seperti tawuran yang sempat disinggung di atas?

Sepertinya semuanya harus berbenah, Dan ibu..sebagai sosok yang paling berperan penting dalam proses awal tumbuh kembang seorang anak, perlu lebih mawas lagi menerapkan pola yang tepat untuk mendidik putra-putri generasi penerus bangsa ini. karena sejatinya ibu adalah madrasah pertama seorang anak.

Dan hari ini 22 Desember 2011, aku tak hendak mengkritisi peran ibu, atau apapun terkait dengan keberadaannya. Aku hanya mencoba memandang salah satu fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat kita terkait dengan pentingnya peran seorang ibu dalam pembentukan generasi madani.

 

221211

Selamat hari ibu, untuk mereka yang tak pernah menghitung jasa. Semoga Allah membalas dengan limpahan rahmat, keberkahan dan pahala berlipat ganda.

(terkhusus untuk diriku sendiri, dalam persiapan menjadi seorang ibu)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s