Sebelum membaca tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan satu hal, kawan. Apa-apa yang akan aku tuliskan ini murni hanya sebuah spontanitas saja, perasaan dan keresahan hati yang tiba-tiba meloncat-loncat dalam alam pikiranku. Sehingga tak lega rasanya kalau tak kutuliskan. Semoga tidak ada yang tersinggung. Sungguh bukan itu maksudku,
Aku prihatin, itu saja.
Seperti biasa, angkot pink yang selalu kunaiki menuju kantor setiap pagi sejak 5 bulan terakhir ini akan berhenti di lampu merah. Perempatan jalan Sudirman di depan Bank Mandiri lama yang saat ini sudah dipercantik makin megah. Hmm.. makin lama, kota Padang yang diprediksi para ahli gempa mempunyai peluang besar dilumat tsunami ini semakin gagah saja. Aku heran..
Lebih dari lima menit angkot ini berhenti. Lama juga, jam di hape ku sudah menunjukkan 07.46. tak banyak waktu lagi. Hanya 14 menit tersisa bagiku agar tidak telat, untuk segera sampai di kantorku di jalan Juanda.
Sekilas mataku kulayangkan berkeliling, mobil dan motor yang saling berdesakan, sudah seperti kota Jakarta. Ramai dan bising, dan parahnya lagi, titik-titik kemacetan seperti ini tidak hanya disini saja, tapi sudah menjamur di seantero kota Padang.
Tiba-tiba terpaut pandangku pada sebuah TV besar yang terpampang megah melintang membelah jalan dari depan Bank Mandiri ke SMA 1 lama. Sebuah media iklan yang semakin menunjukkan kecantikan dan keelokan kota, seperti kota metropolitan saja. Dengan hiasan tanduk kerbau di atasnya sebagi ciri khas Minangkabau. Dan sebuah logo pemerintah kota Padang bertengger di sana.
Namun aku terpaku seketika. Apa yang salah kiranya? TV besar itu memutarkan iklan yang sangat mengelitik sanubariku. Iklan rokok saudara-saudara. Apakah aku terlalu berlebihan jika menganggap itu tidak pantas. Entahlah, terserah bagaimana pendapatmu kawan. Tapi hal ini sungguh membuatku resah.
Apa maksudnya iklan rokok di pusat keramaian seperti itu? setahuku media iklan itu adalah milik pemerintah kota (maafkanlah jikalau aku salah). Dan pemerintah tentu punya kuasa untuk mengontrol dan membatasi iklan apa saja yang akan ditayangkan.
Tidakkah iklan rokok disana seolah menjadi pembenaran bagi masyarakat untuk merokok dan membudayakannya? Ahh.. aku sungguh tidak suka dengan rokok. Dari dulu, bahkan hingga kini. Menurutku, memutarkan iklan rokok disana jelas bukanlah sebuah edukasi yang mencedaskan masyarakat. Tapi justru menjerumuskan. Bukankah salah satu peran pemerintah adalah pencerdasan masyarakatnya? Kenapa malah seolah melegalkan dan bahkan menganjurkan masyarakat untuk beramai-ramai mengkonsumsi rokok? (sekali lagi maafkan jika aku salah, tapi bagiku, sungguh itu bukan keputusan yang bijak).
Lalu apa guna pendidikan berkarakter yang hari ini digaung-gaungkan oleh pemerintah. Bahkan hingga menetapkan kurikulum baru pendidikan dengan “pendidikan berkarakter”. Bukankah dua hal ini menjadi bertentangan dan berseberangan?
Sempat kudiskusikan hal ini dengan sesama penumpang angkot yang duduk di sebelahku, seorang gadis muda, seusiaku kira-kira.
“itu sumber pemasukan pemerintah mah, ka baa jo lai?”.
Demikiankah kiranya? Apakah hanya karena iklan rokok akan memberikan pemasukan yang besar bagi pemerintah, kemudian mengiklankannya bahkan seolah-olah mendukungnya dengan sukarela. Tidak bisakah pemerintah mencari pemasukan lain dari hal-hal yang lebih mendidik dan bermanfaat? Atau dengan mengiklankan keelokan alam yang akan dikunjungi oleh para wisatawan sehingga menambah income dan devisa, misalnya?
“Dak usah diacuahkan bana, banyak nan lain nan kadipikiaan mah”, ujarnya lagi, dengan santai.
“Ahh.. bagimu mungkin memang demikian”, seruku dalam hati. Namun aku prihatin dengan kondisi ini dan dampak jangka panjang yang akan dihasilkannya bagi para generasi muda. Memang tidak hari ini, namun hingga nanti, para generasi akan semakin terbiasa dengan rokok, bahkan tidak sedikit kulihat anak-anak usia SMP kelas 1 yang satu angkot denganku mengepulkan-ngepulkan rokoknya dengan bangga.
Generasi seperti inikah pemimpin bangsa kita nanti?
Kawan, maafkan aku karena menuliskan ini. jika ada diantara kawan-kawanku yang suka rokok dan tidak sepakat denganku, sungguh tidak masalah.
Aku prihatin, itu saja.
240512
Disudut meja kerja, dalam 10 menit yang gegas.














