Bunda mencintai kalian, selalu untuk selamanya

selasa, 21 Maret 2017

Nak..Saat ini..tengah berlangsung pelatihan Fasilitator Keamanan Pangan Sekolah. kerjasama BBPOM dan Salimah Sumbar..

seharusnya bunda juga berada di sana. bersama-sama dengan peserta lainnya.

bunda sudah mendaftar jauh-jauh hari. mengapa? karena alangkah menyenangkannya aktifitas itu.. bergelut dengan dunia pendidikan, memberikan penyuluhan kepada guru2 dan murid2 di sekolah. betapa indahnya dunia itu.aktifitas yang dari dulu selalu bunda idam2kan. aktifitas yang menuntut bunda untuk selalu tampil necis, berangkat ke sekolah dengan gembira..memberikan penyuluhan.. mencerdaskan, mengayomi, merancang..

ahh.. bunda senang sekali aktifitas itu. hal yang sangat menyenangkan. dan sudah terbayang di angan bunda, betapa serunya.. 😍

tapi nak.. 4 hari lalu bunda mengundurkan diri dengan yakin. mengesampingkan  kesempatan keren itu.dan menjauhkannya dari angan..

adalah satu yang membuat bunda bertekad bulat untuk mundur, adalah.. ..kalian nak.. ya.. kalian..

apalah arti bunda eksis di luar sementara kalian di rumah nanti entah akan bagaimana. 

ketika awal mendaftar dulu bunda sempat berpikir, kan kerjanya ga tiap hari..kan hanya sesekali bunda ke sekolah, kan hanya bbrp jam kalian bunda tinggalkan di rumah..

tapi kemudian.. menderas airmata bunda menatap wajah2 polos dan bening kalian.. 

bukan itu tujuan utama hidup bunda nak.. bukan itu yang paling bunda harapkan dalam hidup nak.. bukan karir, bukan nama, bukan jabatan, bukan uang.. 

berpikir meninggalkan kalian hanya beberapa jam saja dengan orang lain sudah membuat badan bunda menggigil nak..

bukan hanya karena bunda khawatir akan keselamatan kalian, bukan juga hanya karena khawatir terlalaikan makan kalian.. tak pula hanya karena bunda takut kalian sakit..

tapi.. jika bunda pergi, bunda takkan punya banyak waktu lagi untuk bercerita dengan kalian, menasihati kalian dengan hikmah, memeluk kalian ketika kalian menangis, bercerita tentang Allah, rasulNya dan keajaiban ciptaanNya. kalian hanya akan mendapatkan sisa waktu bunda..

dan bunda tidak ingin, tidak rela,,

biarlah bunda selalu di hati kalian, nak.. 

selalu ada saat kalian butuh tempat untuk menangis, bersandar, merajuk, bermanja,, bergelut..😂😂

biarlah selalu cinta kalian untuk bunda.. biarlah hati kalian hanya untuk bunda, sehingga ketika kalian terlalai karena khilaf, takkan susah bunda untuk menyentuh hati kalian kembali ke jalan Allah.. agar ketika bunda butuh kalian, suatu hari nanti, bersegera kalian berebutan memeluk bunda.. agar kelak, kita akan terus bersama, berkeluarga, menjadi ibu dan anak hingga surga..dan agar di akhirat, di hari segala2nya dihisab, kalian akan menjadi saksi, bunda layaknya memasuki jannahNya..agar kelak kalian akan menjadi kunci bunda untuk memasuki surga Allah

bunda akan sabar menunggu hingga kalian besar, hingga kalian kokoh berpijak.. diatas jalan Allah..dan saat itulah mungkin, kelak bunda akan kembali terbang, kemanapun menjelajahi dunia yang bunda mau

bunda mencintai kalian nak,, selalu untuk selamanya
menunggu zuhur, Padang, 12.28 wib

My Pizza

Alhamdulillah.. sudah lama ingin bikin pizza sendiri.akhirnya kesampaian juga. Meskipun bentukny blm terlalu meyakinkan tapi rasanya jangan ditanya..lueezaaat…

image

Aisyah pun sukaaaa..

Tentang Karin.. sebuah perenungan

Sedang maraknya medsos dan berbagai artikel membahas tentang Karin Novilda membuat saya penasaran dan berselancar ke IGnya
Seketika saya terhenyak. Terpana dengan pola kehidupannya. Dan saya pandangi wajah aisyah dan umar yang sedang lelap. Sembari hati ini berdoa, ya Allah.. mampukan kami mendidik mereka menjadi pejuang agamaMu..

Miris.. itu yang saya rasakan. Miris dengan pola hidupnya yang seperti itu. Dengan gaya berpacarannya. Dengan kata2 dan akhlaknya dalam bertutur..
Saya yakin Karin bukan satu2nya. Banyak mungkin diluar sana yang seperti itu.

Dan saya ketakutan.. takut dengan segala kemungkinan yang mungkin juga bisa menyergap anak2 saya. Belumlah lepas sesak di dada karena begitu hebatnya bombardir LGBT dan pelecehan seksual di luar sana, tetiba saya tersadar, kehidupan seperti ini akan dianggap biasa. Saya takut, kehidupan seperti itu juga akan menjadi hal yang lazim bagi anak2
saya. Akan jadi apa mereka nanti kalau sosok seperti itu yang mereka idolakan.
Kemudian saya berpikir tentang karin..sebagai bentuk evaluasi saya dalam mendampingi anak-anak saya sendiri.

Apakah dia menjadi begitu dengan sendirinya?saya rasa tidak. Pasti ada peran yang sangat besar dari keluarga dan lingkungannya.
Saya dibuat penasaran dengan bagaimana pola didik, pola asuh, dan pendampingan ortunya terhadap karin. Tidakkah ada nasehat2 dan pengingat? Tidakkah ortunya khawatir?
Saya takut bersuudzon, yang pada akhirnya mengotori hati saya sendiri..

Tapi setidaknya melihat kehidupan karin semakin memperbarui niat dan ikhtiar saya.. untuk mendekap dan memeluk anak2 saya lebih erat. 4 orang anak yang diamanahkan Allah ini. Semakin menggebu rasa hati saya untuk tidak sekali2 memalingkan muka, hati, waktu,
dan doa dari mereka. Ingiin rasanya selalu ada untuk mereka. Senantiasa menjadi sahabat bagi mereka kapan saja mereka butuh. Saya akan berusaha optimal untuk aisyah dan umar setiap hari. Dan bersama dzakiyah dan qonitah setiap mereka pulang liburan dari asrama dan tiap2 jadwal menelpon mingguan..
Bertanya kabar mereka, mendengarkan curhat mereka. Dan memeluk mereka selalu dengan doa.

“Ya Allah.. jadikan anak2 kami, dzakiah, qonitah, aisyah dan umar menjadi anak2 yang tidak tergilas arus zaman. Jaga mereka dalam ketaatan dan kecintaan padaMu.. serta lindungi mereka dengan kasih sayangMu yang tak pernah kering. Aamiin ya mujiibassaailin”